Pakai Make Up? Buang-Buang Waktu Saja: Tampil Alami Lebih Menarik

30 Jan

make up

Make Up? Hanya membuang-buang waktu: Tampilan alami terbukti  lebih penting jika dikaitkan dengan betapa menariknya seorang perempuan.

  • Tampilan alami lebih penting saat dikaitkan dengan seberapa menariknya seorang perempuan.
  • Dalam sebuah studi, 44 siswa difoto dengan dan tanpa make up.
  • Foto-foto tersebut ditunjukkan secara acak kepada 62 siswa lain, laki-laki dan perempuan.
  • Pengaruh make up hanya sebesar dua persen.

 

Sebagian besar perempuan meninggalkan rumah dengan muka penuh make up, lipstick dan mascara.

Tetapi menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin dan menggunakan kosmetik mahal ternyata hanya membuang-buang waktu saja.

Menurut penelitian terbaru, memakai make up hanya berperan kecil dalam membuat tampilan perempuan lebih menarik.

Malahan, menurut peneliti, tampilan alami jauh lebih penting saat dikaitkan dengan seberapa cantiknya seorang perempuan dilihat baik oleh lelaki atau perempuan.

“Poin pentingnya adalah menjadi diri sendiri,” terang peneliti psikologis Robin Kramer dari University of York seperti dikutip situs dailymail.co.uk (30/1)

“Meskipun make up membuat perempuan sedikit lebih menarik dibandingkan yang lain, make up tidak bisa melakukan banyak hal dibandingkan dengan tampilan alami. Jika Anda memakaikan make up pada seorang perempuan yang tidak menarik, make up tidak akan membuatnya jadi lebih menarik dibandingkan seorang perempuan cantik tanpa make up,” lanjut Kramer.

Tampilan dan identitas yang Anda bawa saat lahir, menurut Kramer, menentukan kecantikan dan Anda tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengubahnya.

Studi ini melibatkan 44 mahasiswa berusia antara 18 dan 21, yang difoto dengan dan tanpa make up.

Foto-foto tersebut ditunjukkan secara acak kepada 62 siswa lainnya, baik laki-laki dan perempuan, yang diminta memberi penilaian dari skala satu sampai tujuh. Skala satu untuk taraf sangat tidak menarik dan tujuh untuk kondisi sangat menarik.

Penilaian tersebut selanjutnya dianalisis dan hasilnya ditemukan bahwa make up hanya berpengaruh sekitar dua persen. Sementara sisi kecantikan alami, tampilan dan identitas alami jauh lebih penting, terhitung sekitar 69 persen.

Saat Teduh Mulai Menyapa

31 Jul pinterest.com
pinterest.com

pinterest.com

Setahun lebih, terpuruk rasa hati dan fisik. Saat terdiam, sakit di hati semakin terasa. Bahkan saat bercerita, tersenyum dan tertawa, ada kalanya sedih menyelinap, mencuri keindahan senyum tawa.

Selama ini pula, kuracuni pikiran dan kuporak-porandakan kekokohan hati yang sudah terbangun dua puluh tahun sebelumnya. Betapa gampangnya kesedihan, luka, sakit menghancurkan sisi positif yang dibangun perlahan lewat cinta orang-orang terkasih dan proses pendidikan.

Dalam kurun ini pula, kelembutan hati tertutp oleh emosi. Ramah tutur kata tercemari amarah tak terkendali. Keyakinan terkikis putus asa. Gelak tawa tercuri tetes air mata. Cinta terusik kesal. Bisik doa diperlemah kecewa.

Apakah yang kurang? Adakah yang salah?
Lama tak kutemukan jawab dalam kerapuhan dan kegersangan hati, hingga akhirnya keteduhan dan suasana penuh cinta kasih di Namo Pencawir bangunkanku dari tidur panjangku. Hanya satu yang kurang dalam kehidupanku: IMAN. Selama ini, keterpurukan dan kekecewaan telah mencuri percayaku akan belas kasih, kemurahan, pertolongan, berkat dan anugerah-Nya.

Hidupku bukan milikku. Tak ada hakku bahkan atas sehelai rambutku. Jadi mengapa aku begitu cemas? Sementara Dia begitu mencintaiku, begitu rindu akan ketulusan dan percaya hatiku terhadap janji-Nya.

Tak perduli apakah fisik masih merasa terbebani. Yang benar adanya, hati ini telah diubahkan, disentuh dengan bisik kasih: Aku mengasihimu. Ini aku, datang dengan segala kerapuhan dan kelemahanku, dengan segala kesedihan dan kecemasanku. Kuletakkan semuanya di kaki-Mu.

Biarlah kembali senyum tawaku. Biarlah kembali lembut hati dan tutur kataku. Biar tetap kuucap syukur dalam setiap langkah. Biar kulihat keindahan dari semua ciptaan.
Mampukan aku tuk selalu mencintai dengan tulus.

Percaya aku, indah hari depanku dalam rancangan tangan kasih-Mu.:)

Surat Cinta-11 (Kilas Balik)

4 Feb

Medan, 3rd Feb 2014

google.com

google.com

Dear ai,

“Nothing comes from nothing”, salah satu kutipan favoritku. Segala apa yang kita peroleh ada kaitannya dengan apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Kebaikan selalu berbuah hal-hal yang baik pula. Mungkin tidak diterima secara langsung tapi lewat perantaraan orang lain.

Adakah kaitan kutipan ini denganmu? Tentu ai. Menemukanmu adalah berkat dan suka cita. Suatu kebaikan dalam hidupku. Dengan menemukanmu aku meyakini satu hal: pasti ada hal baik yang telah kulakukan di masa lalu.

Dear ai,

Beberapa hari lalu, kudengar kalimat ini dari radio,” setiap kejadian dalam hidup kita, sekecil apa pun itu, telah dirancang oleh Tuhan. Tak ada yang luput dari rancangan tangannya.” Untuk sesaat, aku tertegun dan membiarkan pikiran megatif melintas di kepalaku: apakah serangkaian hal kurang menyenangkan yang kualami belakangan ini juga rancanganNya? Setega itukah Dia kepadaku? Hal buruk apakah yang telah kulakukan?

Dear ai,

Pikiran negatif semuanya lenyap begitu aku melihat rangkaian kejadian belakangan ini dari sudut pandang lain. Dalam setiap cobaan yang kualami, Dia juga berikan aku pendampingan dan cinta kasih yang begitu besar melalui orangtua, saudara, teman, dan yang pasti melalui hadirmu.

“There must be blessing in disguise,” kutipan dari film Pride and Prejudice. Pasti ada berkat tersembunyi dari setiap kejadian, bahkan kejadian terburuk sekalipun.

Kubiarkan bibirku rekahkan senyum dan ucap syukur karena Dia telah merancang pertemuan kita dengan begitu indahnya. Pertemuan tak terduga yang setiap kali kukenang selalau meninggalkan sentuhan tersendiri di hatiku. Selaku pencinta sastra, aku merasakan sisi romantisme dari awal tatap mata kita.

Tuhan begitu baik, berikan aku kisah cinta yang luar biasa indahnya. Ternyata kehangatan cinta Elisabeth dan Robert Browning yang tertuang dalam baris-baris puisi mereka bukanlah kisah terindah di dunia, setidaknya tidak lagi untukku.

Setiap keping mata uang punya dua sisi. Dan jika Dia telah merancangnya sedemikian rupa, biarlah kepingan diriku melengkapi sisi dirimu dan begitu pula sebaliknya.

“Billy,” ucapmu kala itu sambil mengulurkan tangan. Aku bahkan tak terlalu ingat ekspresi awalmu.

“Ika,” ucapku sehangat dan seceria mungkin, sesuai dengan disain awal Melati, menghiburmu sebelum bertemu teman barumu.

Kala itu, masih ada dua sisi terpisah dalam satu diriku. Satu sisi adalah tampilan luarku, yang harus selalu riang tuk mengundang tutur katamu. Dan satu sisi lagi adalah sisi hati yang masih merana, sibuk dan bingung merapikan serpihan hati. Fixing a broken heart, seperti kata lagu.

Aku begitu sibuk mencairkan suasana dan merapikan hati di saat itu, sehingga tak banyak yang bisa kuingat. Tapi Dia begitu besar, bisa merancang hal kecil bermakna besar yang akan mengaitkanku denganmu.

“Jaga tanganmu. Jangan sembarangan menyentuh orang saat berbicara, apalagi kaum adam. bagimu, sentuhan itu hanya tanda keramahan atau mungkin hanya kebiasaan jelekmu saja. Tapi mereka bisa memaknainya berbeda,” ucap Elma beberapa tahun lalu saat aku masih duduk di bangku kuliah. Ucapan yang selalu kuingat dan membuatku berhasil menghentikan kebiasan menyentuh lawan bicara, setidaknya aku berhasil sebelum bertemu denganmu.

Di momen awal pertemuan kita, aku telah memukul ringan kakimu sambil tertawa. Momen kecil yang tanpa kusadari tetap berdiam di ingatan jangka panjangku. Momen yang kedepannya menjadi pembuka dan penghubung pintu hatiku denganmu.

Tahun pertama kebersamaan kita, mungkin bukan tahun yang begitu indah dari sisi pandangmu. Mengenalku yang keras kepala, moody, super cuek dan kadang mungkin terkesan mengabaikanmu. Jika muncul kesal di hatimu, selalau dinginkan dengan fakta ini: tak perduli seberapa dingin sikapku padamu, aku tak pernah sekali pun mengalihkan pandangan mata dan hati ke orang lain, hanya padamu (karena aku selalau memakai kaca mata kuda:)

Dear ai,

Cintaku padamu mungkin pada pandangan kedua, tapi bukan bearti tidak sedalam cinta pada pandangan pertama. Aku bahkan yakin lebih dalam dari itu:)

Dear ai,

Ada satu kutipan yang pernah kubaca,” kamu mungkin tidak berarti apa-apa bagi dunia. Tapi bagi seseorang, kamu adalah segalanya, kamu adalah dunianya.” Setelah mengenalmu, kupahami ternyata kutipan ini ada benarnya. Tak sedikit kalimat bernada kurang positif yang kudengar saat pertama mengenalmu.

“Kalian tidak cocok.”

“Dia terlalu pendiam.”

“Dia bukan tipe idealmu.”

Dan banyak lagi yang kudengar. Tapi ai, aku selalau melihat kebaikan dan sisi postifmu dari setiap kalimat tersebut. Seiring berjalannya waktu, aku tahu engkau berarti begitu banyak dalam hidupku. Kesadaran ini muncul bukan karena cintaku buta, tapi karena cintaku adalah cinta yang murni dari hati, cinta yang bersedia memahami. Cinta yang ditanamn olehNya dan tentu tak pernah bisa kutolak. Cinta yang menghangatkan kebekuan hati, cinta yang menyemarakkan kegersangan hati.

Dear ai,

Tak terasa kebersamaan kita telah memasuki tahun ke-4. Telah sampai aku pada satu pemahaman: hidupku takkan pernah selengkap ini tanpamu.

Dear ai,

Segala kesusahan yang telah engkau rasakan tuk memahamiku selama ini akan kutebus dengan mendampingimu sepanjang hidupku. Tentu saja jika Dia mengijinkan. Tentu saja jika sesuai dengan rancanganNya. Tapi aku percaya, Dia telah mempunyai rencana indah saat mempertemukan kita. Semoga kita segera bisa menjelang rencana indah yang telah Dia rancang untuk kita ke depannya.:)

Yang Lalu BUkan Esokku

6 Oct

Medan 6th October 2013

Image

Berlalu sudah jejak-jejak masa lalu,

Segar diingatan tapi takkan terulang lagi,

Riang tawa itu, kan jadi milikku selamanya,

Rasa sakit itu, tlah tawar kini,

Pudar tak berbekas.

 

Entah sejak kapan,

Tlah berhenti ku merindu hari-hari lalu.

Tak lagi kusesali momen-momen yang kian jauh.

Hari lalu bukan milikku.

Hari ini dan esok, kurengkuh suka citaku.

 

Hai engkau yang kini ada di teduh mataku,

Warnailah hari –hari esokku dengan caramu.

Mother: The Sound Of The Deepest

24 May

Medan, 24th May 2013      10: 30

Image

To  My Mother: The Sound of the Deepest Heart

 

‘Mother’,

The simplest and the lightest word my mouth could ever say,

In any condition: the best and the worst ever.

 

When laughter accompanies my steps along the day,

I’ll come home and say: “mother”, With sparkling eyes,

You always welcome me: with warm words, loving eyes, merry face,

Cause  you know, your very daughter is overflowed by happiness.

Then you worship God for giving me such a lovely day.

 

When a harsh word hurt my heart,

And I can’t even let a single tear drop to lighten my heart,

I cannot think of anything  better than going home,

Find you and say this magic word,” mother”, with the sorrow and heavy eyes,

There you always be mother,

Still welcome me: with calm words, deeply-loving-you-eyes, protecting touch,

And you know mother,

MY heavy eyes could just easily shed tears and heal my heart,

Then you will thank God for letting me find comfort in you.

 

Mother, you are my home,

No matter how far I am gonna go someday,

No matter with whom I am gonna spend my entire life,

I know I’ll always have you,

A home to return to,

In your heart,

The safest place this little girl could ever find.

 

Mother, I love you.

And there is only one thing I always ask the God you worship,

“Please, give me time to make my mother happy. Please, give me time to love her more. Then, I’ll worship you for my whole life.”

 

 

 

 

Saat Kenyataan Lebih Indah Dari Mimpi

18 May

Image

written by: Ikarowina Tarigan

“Frans, kau benar-benar datang? Meninggalkan game Dota 2 Clinkz, The Bone Fletcher untuk menemaniku menonton teater. Benar-benar romantis. Aku sangat menghargainya.” Karolin tak bisa menahan senyum lebar saat melihat Frans duduk di kursi barisan kedua dari panggung Teater O, terpisah satu kursi dari Karolin.

Frans memandang Karolin sekilas, sebelum akhirnya melipat tangan di depan dada, menyandarkan punggung ke kursi dan mengarahkan mata ke tirai merah yang masih menutupi panggung. Benar-benar dingin.

Drama ini diangkat dari novel sejarah Inggris tahun 1800-an. Mengangkat kisah cinta Alexander Ridgley, the Duke of  Ashbourne, dengan perempuan keras kepala turunan Amerika, Emma Dunster. Kali ini kau bisa melihat langsung betapa hidup karakter tokohnya. Jauh lebih menarik dari yang sering kugambarkan dengan kata-kata. Kau akan menyukainya.” Karolin tetap berceloteh, mengangggap diamnya Frans sebagai representasi mempertahankan harga diri karena telah mengalah demi selembar tiket drama yang Karolin letakkan di samping  laptopnya.

“Ehhhmm,” gumam Frans. Mata tetap ke layar.

Tatapan Karolin membasuh sosok Frans dengan kehangatan rasa dari hati. Dingin juga tidak apa-apa. Menyaksikan kisah cinta bersama, meski tak terucap sepatah kata pun, akan tetap romantis. Karolin mengalihkan pandang ke tirai panggung yang ditarik ke pinggir, pertunjukan akan segera dimulai.

Mata Karolin lekat ke tokoh Alexander yang telah memasuki panggung. Badannya benar-benar tinggi besar dan kokoh seperti yang digambarkan penulis cerita dalam novelnya. Tokoh Emma tak akan kalah memikatnya, pikir Karolin saat seorang penonton menghalangi pandangan dan duduk mengisi kursi kosong di antara dia dan Frans.

Dua kursi di samping kananku juga masih kosong. Karolin memandang dua kursi kosong di samping kanan dan berusaha melihat wajah Frans yang hampir tertutup geraian rambut panjang pentonton baru di antara mereka. Frans tak bergeming. Kelihatan tak  terusik dengan kehadirannya. Baiklah, begini saja, meski tak duduk berdampingan, asal pandangan mata dan hati masih menikmati kisah cinta yang sama, tetap masih romantis. Karolin hanyut dengan kisah Emma dan Alex di panggung.

“Alex, apakah kau baik-baik saja. Katakan sesuatu” Emma mendekatkan kepala ke dada Alex, mencoba mendengar detak jantungnya. Tangan Emma  gemetar saat mengikatkan kain yang semula digunakan untuk mengikat kedua lengannya ke bekas luka tembak di bahu Alex.

Perlahan Alex membuka matanya. “Jangan pernah meninggalkanku lagi. Jika kau memaksa pergi, aku akan mengurungmu di kamar atas rumah kita,” ucap Alex, disambut senyum lega Emma.

Penonton berdiri dan memberi sambutan meriah saat para pemain teater memberi hormat kepada penonton. Karolin memegang dadanya, merasakan kuatnya intensitas cinta Emma dan Alex di dadanya, cinta untuk Frans.

Karolin mengalihkan pandang, mencari sosok Frans. Kursinya kosong. Mungkin sudah mengikuti beberapa penonton lain mengantri ke luar gedung. Tubuh kecil Karolin bergerak lincah, mencoba mencari celah di antara sesak penonton. Karolin tiba di pintu teater disambut tempias dari derasnya hujan.

“Frans….Frans…FRans!!!!!!!!,” bisik panggilan Karolin berubah menjadi teriakan diiringi panik. Harga diri tak akan membuatnya meninggalkan aku sendiri di sini, bisik hatinya.” Frans!!!!! Frans!!!!!.”

“Karolin..Karolin….kau mimpi buruk lagi?” Sentuhan tangan hangat di kedua pipinya dan bisikan lembut di telinganya membangunkan Karolin dari tidur dalam.

“Frans….kau di sini,” Karolin membiarkan tatapnya menyatu dengan telaga cinta di mata Frans. Sangat berbeda dengan sosok Frans yang baru saja membuatnya mandi keringat dalam tidurnya. Jika harus tenggelam karena tak bisa berenang, biarlah aku tenggelam di telaga matanya, aku rela.

“Tentu aku di sini. Duduk  dekat dengan sofa tempatmu berbaring. Aku sudah berjanji tuk menungguimu. Kau bisa tidur siang, dan aku akan tetap di sini menemanimu.”  Frans menggenggam tangan Karolin, mengunci erat jemarinya di antara celah-celah jemari Karolin.

“Aku benci melihatmu menghilang, bahkan jika hanya dalam mimpi,” ucap Karolin tanpa beban. Benar-benar terbuka, seandainya aku juga bisa menyampaikan semua pikiranku dalam kata-kata, pasti hati akan lebih ringan, bisik hati Frans.

“Jangan katakan kalau kau memimpikan aku. Bahkan dalam mimpi pun kau jarang melibatkanku. Pasti tokoh gagah dari novel-novel historical romance itu lagi yang hadir di mimpi-mimpimu.” Frans berdiri, meregangkan badan dan memalingkan wajah dari Karolin, menyembunyikan rasa cemburu tak jelas yang kadang muncul di hati dan menjalar ke wajahnya.

“Alexander Ridgley benar-benar hadir di mimpiku. Dia………..”

Jangan teruskan, hari ini aku tak ingin mendengarnya. Besok pasti akan kudengarkan lagi. Tahukah kau? Saat bibirmu mengukir senyum dalam tidur pulasmu, hatiku bertanya kemana kau pergi dalam tidurmu, siapa yang kau lihat dan karakter mana yang bisa membuatmu begitu bahagia. Aku kah? Orang lainkah? Kesal rasanya tak bisa menjadi tokoh utama bahkan dalam mimpimu. Dan takukah kau, saat senyummu pudar, berganti dengan cemas gelisah dan wajah basah karena keringat, hatiku juga tak tenang. Siapakah yang mengganggumu dalam tidur? Manusia manakah yang bisa membuatmu begitu gelisah, bahkan dalam mimpi. Lelah rasanya hanya bisa melihat dan menyentuhmu tanpa bisa membantu meringankan bebanmu dalam mimpi. Tahu kah kau? Kadang aku cemburu dengan karakter-karakter dalam mimpimu?

“Frans, kenapa kau menutup telingamu? Jangan katakan kalau aku pernah menceritakan tokoh yang sama dan kau mulai bosan mendengarnya,” ucap Karolin yang kini tepat berdiri di depan Frans. Kedua tangannya menyentuh lembut kedua telapak tangan Frans yang tanpa dia sadari telah diangkat menutup telinganya. Tak ada amarah di mata Karolin, senyum lepas akrab mengukir bibirnya.

“Kau tidak marah saat aku tidak mau mendengarkan ceritamu?” Frans mengistirahatkan kedua tangannya di bahu Karolin.

“Kau tahu Frans, kadang aku terlalu banyak bicara sampai-sampai aku lupa mana yang sudah dan mana yang belum pernah kuceritakan. Dan kau tak harus mendengar semuanya berulang-ulang. Sekarang aku lapar lagi.” Karolin mengedipkan mata dan hendak melangkah meninggalkan ruang tamu.

Pelukan erat Frans menahan langkahnya.”Ceritakan lagi mimpimu, aku siap jika harus mendengar Alexander, Dunford, Galen, atau siapa pun lagi tokoh impianmu lainnya,” bisik Frans lembut di telinga Karolin.

“Frans..Jangan katakan kalau kau cemburu dengan karakter-karakter yang kadang kukagumi?” Karolin merenggangkan pelukan Frans dan mencari kebenaran di matanya.

“Kadang aku merasa kau membandingkan aku dengan mereka, dan memang aku cemburu,” ucap Frans.

Karolin terpaku. Mulutnya rapat, tak sanggup menyampaikan kalimat-kalimat yang muncul bersamaan di pikirannya. Kau tahu? Betapa aku berharap bisa menggenggam jemarimu, bahkan dalam mimpi. Betapa senangnya aku jika bisa melihatmu sekilas saja dalam mimpi. Tahukah kau? Hilangnya sosokmu dari pandangan bisa mengganggu nyenyak tidurku dan merusak moodku di esok harinya. Mengertikah kau? Senyumku karena melihatmu, gelisahku karena kehilangan sosokmu.Tahukah kau? Aku bahkan enggan bermimpi, karena kebersamaan kita di dunia nyata jauh lebih indah dari mimpi-mimpi yang mengusik tidurku.

“Frans…..haruskah aku membuat telingamu lelah dengan banyak kata? Tak bisakah kau membaca mataku?” Karolin menengadahkan wajahnya, membiarkan tatapnya menyatu dengan tatap mata Frans.

Karolin kembali membiarkan dirinya tenggelam di pelukan erat Frans.”Jika lelah, tidur dan teruslah bermimpi. Tak masalah kau terus memimpikan orang lain, sepanjang aku terus ada di dunia nyatamu,” bisiknya halus di telinga Karolin.

 

Simalingkar B

18 Mei 2013

 

 

 

 

You and I

8 Apr

Medan, 8th April 2013

Image

Normal human I am;

I have dreams,

I fall in love,

Just like they do

 

Am I too greedy for wanting them both?

The dreams and love,

The dreams make this life worth-fighting for,

Love makes all the sadness and difficulties in life easier to bear.

 

Never could I separate my love and dreams,

Because in the end:

Dreams have no meaning without love.

 

Dear love,

You’re the final destination of all my dreams.

No matter how far I wanna  go for the dreams,

It’s to you I’ll always return.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 917 other followers