Tag Archives: cerpen

Saat Kenyataan Lebih Indah Dari Mimpi

18 May

Image

written by: Ikarowina Tarigan

“Frans, kau benar-benar datang? Meninggalkan game Dota 2 Clinkz, The Bone Fletcher untuk menemaniku menonton teater. Benar-benar romantis. Aku sangat menghargainya.” Karolin tak bisa menahan senyum lebar saat melihat Frans duduk di kursi barisan kedua dari panggung Teater O, terpisah satu kursi dari Karolin.

Frans memandang Karolin sekilas, sebelum akhirnya melipat tangan di depan dada, menyandarkan punggung ke kursi dan mengarahkan mata ke tirai merah yang masih menutupi panggung. Benar-benar dingin.

Drama ini diangkat dari novel sejarah Inggris tahun 1800-an. Mengangkat kisah cinta Alexander Ridgley, the Duke of  Ashbourne, dengan perempuan keras kepala turunan Amerika, Emma Dunster. Kali ini kau bisa melihat langsung betapa hidup karakter tokohnya. Jauh lebih menarik dari yang sering kugambarkan dengan kata-kata. Kau akan menyukainya.” Karolin tetap berceloteh, mengangggap diamnya Frans sebagai representasi mempertahankan harga diri karena telah mengalah demi selembar tiket drama yang Karolin letakkan di samping  laptopnya.

“Ehhhmm,” gumam Frans. Mata tetap ke layar.

Tatapan Karolin membasuh sosok Frans dengan kehangatan rasa dari hati. Dingin juga tidak apa-apa. Menyaksikan kisah cinta bersama, meski tak terucap sepatah kata pun, akan tetap romantis. Karolin mengalihkan pandang ke tirai panggung yang ditarik ke pinggir, pertunjukan akan segera dimulai.

Mata Karolin lekat ke tokoh Alexander yang telah memasuki panggung. Badannya benar-benar tinggi besar dan kokoh seperti yang digambarkan penulis cerita dalam novelnya. Tokoh Emma tak akan kalah memikatnya, pikir Karolin saat seorang penonton menghalangi pandangan dan duduk mengisi kursi kosong di antara dia dan Frans.

Dua kursi di samping kananku juga masih kosong. Karolin memandang dua kursi kosong di samping kanan dan berusaha melihat wajah Frans yang hampir tertutup geraian rambut panjang pentonton baru di antara mereka. Frans tak bergeming. Kelihatan tak  terusik dengan kehadirannya. Baiklah, begini saja, meski tak duduk berdampingan, asal pandangan mata dan hati masih menikmati kisah cinta yang sama, tetap masih romantis. Karolin hanyut dengan kisah Emma dan Alex di panggung.

“Alex, apakah kau baik-baik saja. Katakan sesuatu” Emma mendekatkan kepala ke dada Alex, mencoba mendengar detak jantungnya. Tangan Emma  gemetar saat mengikatkan kain yang semula digunakan untuk mengikat kedua lengannya ke bekas luka tembak di bahu Alex.

Perlahan Alex membuka matanya. “Jangan pernah meninggalkanku lagi. Jika kau memaksa pergi, aku akan mengurungmu di kamar atas rumah kita,” ucap Alex, disambut senyum lega Emma.

Penonton berdiri dan memberi sambutan meriah saat para pemain teater memberi hormat kepada penonton. Karolin memegang dadanya, merasakan kuatnya intensitas cinta Emma dan Alex di dadanya, cinta untuk Frans.

Karolin mengalihkan pandang, mencari sosok Frans. Kursinya kosong. Mungkin sudah mengikuti beberapa penonton lain mengantri ke luar gedung. Tubuh kecil Karolin bergerak lincah, mencoba mencari celah di antara sesak penonton. Karolin tiba di pintu teater disambut tempias dari derasnya hujan.

“Frans….Frans…FRans!!!!!!!!,” bisik panggilan Karolin berubah menjadi teriakan diiringi panik. Harga diri tak akan membuatnya meninggalkan aku sendiri di sini, bisik hatinya.” Frans!!!!! Frans!!!!!.”

“Karolin..Karolin….kau mimpi buruk lagi?” Sentuhan tangan hangat di kedua pipinya dan bisikan lembut di telinganya membangunkan Karolin dari tidur dalam.

“Frans….kau di sini,” Karolin membiarkan tatapnya menyatu dengan telaga cinta di mata Frans. Sangat berbeda dengan sosok Frans yang baru saja membuatnya mandi keringat dalam tidurnya. Jika harus tenggelam karena tak bisa berenang, biarlah aku tenggelam di telaga matanya, aku rela.

“Tentu aku di sini. Duduk  dekat dengan sofa tempatmu berbaring. Aku sudah berjanji tuk menungguimu. Kau bisa tidur siang, dan aku akan tetap di sini menemanimu.”  Frans menggenggam tangan Karolin, mengunci erat jemarinya di antara celah-celah jemari Karolin.

“Aku benci melihatmu menghilang, bahkan jika hanya dalam mimpi,” ucap Karolin tanpa beban. Benar-benar terbuka, seandainya aku juga bisa menyampaikan semua pikiranku dalam kata-kata, pasti hati akan lebih ringan, bisik hati Frans.

“Jangan katakan kalau kau memimpikan aku. Bahkan dalam mimpi pun kau jarang melibatkanku. Pasti tokoh gagah dari novel-novel historical romance itu lagi yang hadir di mimpi-mimpimu.” Frans berdiri, meregangkan badan dan memalingkan wajah dari Karolin, menyembunyikan rasa cemburu tak jelas yang kadang muncul di hati dan menjalar ke wajahnya.

“Alexander Ridgley benar-benar hadir di mimpiku. Dia………..”

Jangan teruskan, hari ini aku tak ingin mendengarnya. Besok pasti akan kudengarkan lagi. Tahukah kau? Saat bibirmu mengukir senyum dalam tidur pulasmu, hatiku bertanya kemana kau pergi dalam tidurmu, siapa yang kau lihat dan karakter mana yang bisa membuatmu begitu bahagia. Aku kah? Orang lainkah? Kesal rasanya tak bisa menjadi tokoh utama bahkan dalam mimpimu. Dan takukah kau, saat senyummu pudar, berganti dengan cemas gelisah dan wajah basah karena keringat, hatiku juga tak tenang. Siapakah yang mengganggumu dalam tidur? Manusia manakah yang bisa membuatmu begitu gelisah, bahkan dalam mimpi. Lelah rasanya hanya bisa melihat dan menyentuhmu tanpa bisa membantu meringankan bebanmu dalam mimpi. Tahu kah kau? Kadang aku cemburu dengan karakter-karakter dalam mimpimu?

“Frans, kenapa kau menutup telingamu? Jangan katakan kalau aku pernah menceritakan tokoh yang sama dan kau mulai bosan mendengarnya,” ucap Karolin yang kini tepat berdiri di depan Frans. Kedua tangannya menyentuh lembut kedua telapak tangan Frans yang tanpa dia sadari telah diangkat menutup telinganya. Tak ada amarah di mata Karolin, senyum lepas akrab mengukir bibirnya.

“Kau tidak marah saat aku tidak mau mendengarkan ceritamu?” Frans mengistirahatkan kedua tangannya di bahu Karolin.

“Kau tahu Frans, kadang aku terlalu banyak bicara sampai-sampai aku lupa mana yang sudah dan mana yang belum pernah kuceritakan. Dan kau tak harus mendengar semuanya berulang-ulang. Sekarang aku lapar lagi.” Karolin mengedipkan mata dan hendak melangkah meninggalkan ruang tamu.

Pelukan erat Frans menahan langkahnya.”Ceritakan lagi mimpimu, aku siap jika harus mendengar Alexander, Dunford, Galen, atau siapa pun lagi tokoh impianmu lainnya,” bisik Frans lembut di telinga Karolin.

“Frans..Jangan katakan kalau kau cemburu dengan karakter-karakter yang kadang kukagumi?” Karolin merenggangkan pelukan Frans dan mencari kebenaran di matanya.

“Kadang aku merasa kau membandingkan aku dengan mereka, dan memang aku cemburu,” ucap Frans.

Karolin terpaku. Mulutnya rapat, tak sanggup menyampaikan kalimat-kalimat yang muncul bersamaan di pikirannya. Kau tahu? Betapa aku berharap bisa menggenggam jemarimu, bahkan dalam mimpi. Betapa senangnya aku jika bisa melihatmu sekilas saja dalam mimpi. Tahukah kau? Hilangnya sosokmu dari pandangan bisa mengganggu nyenyak tidurku dan merusak moodku di esok harinya. Mengertikah kau? Senyumku karena melihatmu, gelisahku karena kehilangan sosokmu.Tahukah kau? Aku bahkan enggan bermimpi, karena kebersamaan kita di dunia nyata jauh lebih indah dari mimpi-mimpi yang mengusik tidurku.

“Frans…..haruskah aku membuat telingamu lelah dengan banyak kata? Tak bisakah kau membaca mataku?” Karolin menengadahkan wajahnya, membiarkan tatapnya menyatu dengan tatap mata Frans.

Karolin kembali membiarkan dirinya tenggelam di pelukan erat Frans.”Jika lelah, tidur dan teruslah bermimpi. Tak masalah kau terus memimpikan orang lain, sepanjang aku terus ada di dunia nyatamu,” bisiknya halus di telinga Karolin.

 

Simalingkar B

18 Mei 2013

 

 

 

 

Advertisements