Archive | June, 2012

Lonely

28 Jun

Medan, 28 June 2012

Image

When I closed my eyes,

Tried hard not to let these tears down,

Afraid so much they would see me,

You were not there.

 

I dig a hole in my heart,

To keep all this hurt,

I keep digging it deeper and deeper to take all the pain

You were too far to be reached.

 

When I had a lot to say,

Badly need your ears,

To reduce the ringing voice in my brain and my heart,

You were too tired of your own burden.

 

When I was finally alone and let these tears run as they pleased,

Wished so much that your heart could hear mine,

Hoped  that  your voice could stop this hurting heart beat,

You kept being too far away,

Busy to comfort yourself.

 

When I need you, you aren’t here,

When you need me, I am not  there either,

People say: alone but not lonely.

But now, I am alone and feeling lonely.

Surat Cinta-6

5 Jun

Medan 3 June 2012

Image

Surat Cinta-6

Dear ai,

Dari sederet ucapmu, kadang aku merasa kalau dirimu masih meragukanku. Sudah saatnya hilangkan segala ragu, biar kuurai sekali lagi:

Kokoh, seperti tebing karang di pinggir pantai—begitulah caraku mencinta,

Bukan mauku, tapi Dia telah ciptakan aku seperti itu adanya.

Lembut, seperti kelopak mawar—begitulah halus dan peka nya aku merasa, sekali lagi bukan mauku, aku ingin lebih keras dari itu, tapi begitulah aku Dia gariskan.

Sekali aku menyayangi, jika dirimu membiarkanku menyayangimu, maka akan bertahan begitu selamanya.

Terbatasnya bibirku ucap kata cinta, kusadari sepenuhnya. Bukan berarti tak mencintamu, bukan berarti tak merindumu. Hatiku hanya tahu setia tuk satu cinta, bukan mauku juga, Dia bentuk aku seperti ini adanya. Tak perlu dipertanyakan. Waktu kan jelaskan semuanya padamu.

Saat tanyamu kudengar—bersediakah aku temanimu kelak jalani hari bersama.

Hanya kujawab dengan tatap mata—kekasih, aku menyayangimu, jika hidup bersama bisa buatmu bahagia, maka akan begitulah nantinya—

Bunyi verbal mungkin akan lebih jelas bagimu, tapi tuk sementara, biarlah hatiku memuaskan diri menebar cinta lewat pancaran mata. Kelak, mulutku juga akan ucap kata tuk jendela dengarmu.

Saat kulihat ada lelah di wajahmu, aku hanya bisa ulurkan tangan, menyentuh jemarimu—kekasih, bagilah lelahmu lewat jemariku, jika engkau mau, aku akan selalu dekat menemanimu—

Tapi Bibirku tetap tanpa kata, mengalah untuk hati, yang masih ingin mengalirkan cinta lewat genggaman tangan.

Dear ai,

Semoga Dia tanam benih pengertian di hati kita. Dengan begitu, kita semakin saling mengenal seiring waktu. Semakin bisa menerjemahkan semua ucap dan gerak tanpa ragu.

—- Surat Cinta-5—

5 Jun

Medan, 20th May 2012

Image

Dear ai,

Sederet kata hendak kuurai tuk ungkap satu rasa. Biar kumulai dengan arti paling sederhana: aku mencintaimu, aku mengasihimu. Saat kutulis kalimat ini, ada rasa di dada yang sulit kuungkap dengan kata., buatku sadar satu hal: waktu telah berhasil menanam cinta di hatiku.

Dan engkau harus tahu, rasa cinta ini kusyukuri dengan sepenuh hati. Tak pernah terbersit sesal barang sedetik pun. Hatiku seolah sudah tahu satu kebenaran: tak perduli kemana arah kita, searah atau akhirnya harus berpisah jalan, memori yang telah kita ukir bersama akan tetap jadi milikku. Tak seorang pun bisa mencuri memori yang telah tersimpan rapi di kedalaman pikiran dan terbenam lekat di dasar hati. Dan selama otakku aktif, demensia takkan mencuri memori yang ada.

Siapa aku, bagaimana aku bersikap dalam tunjukkan rasa, engkau sudah tahu dari awal. Aku mencintai romantisme dan kedalaman rasa, tapi sulit ungkap dengan cara terbuka.

Cinta, bagiku sangat ideal. Jika cinta, tak perduli apa yang menghadang, maka cinta itu akan datang. Keyakinan ini buatku sengaja pasif, aku ingin bersama orang yang benar-benar mencintaiku. Karena begitu aku mencintai, maka semua hati dan pikiranku hanya tertuju pada satu nama. Sadar akan gilanya caraku mencintai, aku ingin menemukan orang yang juga bisa mencintaiku dengan sama gilanya.

Kukenal dirimu, kubiarkan hatiku menerima cinta yang engkau tawarkan.  Kubiarkan cinta itu tumbuh dalam bisik doa: Smoga Tuhan akhirnya mengakhiri jalan panjangku menemukan cinta terbaik. Hatiku melihat setiap gerak dan tingkahmu, mencoba melihat kesungguhan cinta di dalamnya. Jarak, bagiku tak ada masalah. Tetap hatiku ideal: jika cinta, ruang dan waktu tak kan jadi penghalang.

Sepanjang ada kabar, aku yakin hatimu mengingat cintaku. Tak ada kabar, aku tetap beku dalam diam. Bukan karena tak perduli, tapi karena hatiku ingin meyakinkan satu hal: benarkah kau cintaiku? Pantaskah aku menyerahkan seluruh cintaku untukmu? Jika hatimu benar cintaiku, aku yakin engkau takkan membiarkanku lama dalam diam.

Dear ai,

Saat dirimu tak bisa penuhi ucapanmu sendiri, bukankah itu namanya inkonsistensi? Salah satu hal yang paling tidak bisa ditoleransi hatiku. Salahkah, jika aku mulai ragukan cintamu? Kadang logikaku berbisik: mungkinkah ini caramu mengakhiri ikatan yang telah kita jalin? Tak ingin berakhir begini. Tapi jika ini maumu, tak ada hakku tuk mengikatmu. Ku tahu pasti satu hal: cinta adalah kebebasan, kita tak dapat memaksa di mana dan kapan cinta tumbuh. Cinta tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri, lepas dari kontrol pikiran dan hati.

Tak ada kesal di hatiku. Yang akan kusimpan hanya memori indah : gelak tawa dan senyum. Jika pun harus berakhir, ingin sekali mengakhirinya dengan kata dan tatap muka. Dengan begitu, kita tetap bisa berteman di hari-hari esok. Bagaimana pun, detik waktu tak kan berhenti  sampai di sini. Jalan berliku masih menanti di depan mata. Satu keyakinan: ada suka cita besar menunggu di depan sana.

Dear ai,

Terima kasih telah mewarnai hariku dengan hadirmu. Terima kasih telah menambah cerita baru dalam lembar-lembar hidupku. Hidupku takkan pernah sama lagi tanpa mu. Hidupku jadi lebih bermakna dengan hadirmu. Tak perduli seberapa singkat kebersamaan, semua punya arti tersendiri bagiku.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————