Surat Cinta-10

3 Feb

Medan, Sunday, 3rd February 2013

Image

Dear ai,

Begitu banyak mimpi yang hendak direngkuh hati dan pikiran. Meskipun masih tersendat, tak pernah satu pun mimpi-mimpi itu mati. Tetaplah bermimpi, jalani hari hingga semua tergapai, bisik hatiku setiap kali, tuk menghidupkan semangat logika pikiran.

Pernah terlintas di pikirku tuk berlalu saja, jauh melangkah dan menyerahkan semua pada takdir. Jika digariskan bersama, aku hanya milikmu dan engkau hanya milikku. Tapi selalu muncul tanya di relung terdalam hati: adilkah ini? Tak egoiskah aku?

Kekasih, aku kehilangan hitungan, berapa kali aku telah duduk merenungkan mimpi diiringi bisik halus pada-Nya: terangi hatiku, bawa aku sesuai rancangan terindah-Mu. Dan kekasih, semua mimpi berputar dengan jelas di pikiranku, satu per satu. Dan tak perduli seberapa kali aku mengulangnya, tetap ada namamu di setiap penghujung mimpi-mimpiku.

Kuucap syukur karena jelas sudah satu hal: hatiku tenang bersamamu, tumpuan akhir semua impianku. Tak pernah terpikir tuk mencari tempat melabuhkan hati yang lain. Yang selalu memenuhi pikirku hanya satu: kapankah waktu yang tepat tuk mulai menemani langkah-langkah kakimu, setiap harinya? Bisakah aku merengkuh satu mimpi terlebih dahulu? Mimpi yang begitu jauh di sana.

Kucoba tuk menapaki arah lain—arah yang akan membawa fisikku jauh darimu tapi bukan hatiku, tapi Dia masih menuntunku di sini. Tak begitu dekat tapi tak terlalu jauh dari fisikmu. Berbisik lagi hatiku: apa yang Engkau mau dariku? Arahkan kakiku sesuai kehendak-Mu.

Dear ai,

Bisik doa bawaku pada satu pemahaman baru: kapan pun Tuhan mau, aku siap mendampingi jejakmu. Yakin sungguh hati ini, cintamu bukan penghalangku tuk gapai mimpi, tapi penopang di setiap langkahku. Tak perduli seberapa sedikitnya jumlah kata yang bisa terucap bibirku, tetaplah yakin pada tatap mata dan genggaman tanganku. The deepest part of my heart is yours.

Advertisements

Kucintai Kau, Sangat

13 Jan

Simalingkar B, 13 Januari 2013

4: 15 Sore

Image

Kucintai Engkau,

Abadi tempatmu di hatiku,

Hujan air mataku,

Takkan pernah cukup sebagai ungkapan duka,

Bluebel, sungguh kumencintaimu.

Image

Sesak dada ini, melihatmu meronta,

Mempertahankan kebersamaan, kebebasan, cinta kita.

Masih menit berlalu, 

Kubelai engkau dengan mesra cinta

Kuucap,” Sangat kucintai kau. Jangan berhenti mencintaiku.”

Kau hanya menatapku, pandangan yang kunikmati setiap harinya,

Pandangan pelepas lelah setelah bekerja,

pandangan yang spesial untukku,

Pandangan yang selalu kuartikan dengan kalimat,” Ika, aku sangat mencintaimu.”

Image

Bluebel, tetaplah mencintaiku,

Sama seperti aku mencintaimu,

Selalu, selamanya, di hatiku.

Image

Quote

Kegembiraan dat…

30 Dec

Kegembiraan sangat dipengaruhi oleh cara kita menggerakkan hati dan pikiran. Kemana pun pergi, apa pun yang dilakukan, jika dinikmati dengan sepenuh hati dan pikiran, maka hasilnya adalah rasa suka dan bahagia. Demikian pula sebaliknya, kemana pun melangkah, apa pun yang dikerjakan, seberapa banyak pun uang yang dihabiskan, jika hati dan pikiran tidak berkenan, hasilnya adalah kesal dan marah.

Another Angel Is Getting Married

28 Dec
Charlie's Angels

        Charlie’s Angels

 

  I

Delapan tahun lalu, tepatnya di Poli klinik USU, kutebar senyum ( yang kata mereka begitu murah 😀 )  dan berhasil menemukanmu. Senyum murah yang telah kau sambut dengan begitu hangat.

“Elma Rimayani Ginting, aku juga jurusan Sastra Inggris,” ucapmu ramah, mulai menjembatani senyum murah tadi ke arah yang jauh lebih bermakna dan kemudian kita kenal dengan istilah persahabatan.

Hitung hari menapaki kebersamaan sebagai mahasiswa baru, kita menemukan serpihan mutiara lain, yang pastinya telah digariskan oleh-Nya untuk mewarnai hari-hari kita.

“Nama saya Harwita Ginting dari Sidikalang,” ucapnya polos, dengan senyum yang juga polos, hampir sama murahnya dengan senyum yang tanpa sadar selalu merekah di bibirku.  Saat dia menyudahi pengenalan diri di depan kelas dan kembali menuju tempat duduknya, kita saling bertukar pandang dan senyum. Meskipun kita belum bertukar satu kata pun dengannya, hati kita seolah sudah merasakan hangatnya kehadirannya.

“Ma,” begitu aku memanggilmu. Panggilan yang begitu akrab dan lekat di ujung lidah. “Wit,” kita memanggilnya, panggilan singkat dengan segudang makna. “Ik,” kalian berdua memanggilku, sapaan yang hampir hanya kalian berdua yang menggunakannya tapi begitu lekat di hati.

Masih ingatkah kalian? Tawa, canda, cerita, kesal, dan amarah yang kita bagi bersama. Campuran rasa yang membuat empat tahun masa kuliah berlalu dalam sekejap mata. Entah hati siapa yang membuka, menawarkan dan menerima kasih duluan. Yang aku tahu, cinta kasih persahabatan tanpa sadar telah bersemi, tumbuh berkembang, mekar, dan berbuah di tengah-tengah kita. “We are The Charlie’s Angels,” ucapmu.

  II

“Menjadi orang dewasa ternyata tidak mudah,” ucapmu berbagi cerita, saat tuntutan kerja harus membuat kita terpisah jarak. Jalinan yang telah kita rajut bersama membuat jarak tak berarti. Suara dan pesan-pesanmu tetap bisa merekahkan senyum dan menghangatkan hati. Harus kuakui, aku mengasihimu.

 

      III

Charlie's Angels

Charlie’s Angels

Februari 2011.” I’m finally getting married. Kalian harus datang,” ucapmu riang. Di sana lah kami, menyaksikan tahap-tahap awal kau menapaki hidup baru bersama belahan jiwamu. Mengenang panjang dan rumitnya nya cerita cintamu, ingin meledak rasanya hati (karena suka) melihatmu menemukan pasangan hati yang terbaik untukmu. dari pengalamanmu, kuakui Tuhan begitu baik dan adil.

Dibalut kebaya merah, lengkap dengan pernak-pernik adat Karo lainnya, begitu cantik dan anggunnya dirimu. “Ma, kecantikan Han Jin Su bukan apa-apa dibandingkan alami cantikmu.” I cross my heart, dear.. 🙂

November 2012. “Tanggalnya sudah ditentukan, kemungkinan Desember atau Januari. Kalian harus datang, aku ga mau tahu.” Kali ini si nona Cabe yang berkata. Semua cerita dan pengalamannya tereka ulang dengan jelas di memori. Tawanya, cemberutnya, tangisnya, semua jelas di bola mata. Begitu suka hatiku, kembali kuakui betapa baiknya Tuhan, memberi begitu banyak suka tuk menyamarkan dan menghapuskan luka yang pernah tergores di hatinya.

One angel is securely and happily married. Another one is about to get married. And this other Angel is very happy for both of you. Am I getting married? Don’t worry, I will, when the right moment comes :). Just remember this:  no matter what happen, we are still and will be the Charlie’s Angels that loves  each other. I love you.

Surat Cinta-9

18 Nov

Medan, Sunday, 18th November 2012      7:28

Image

Dear ai,

Sebelum menyatu dengan ketenangan malam, biar kuhapus resah yang mungkin pernah terbersit di hatimu, akan keberadaan diriku . Kekasih, suka di hati, bisa mengisi hari ini bersamamu. Tak perduli berapa kali ekspresi muka berubah karena lelah, hatiku tenang telah mengukirkan kenangan manis untuk hari ini, bersamamu. Jejak langkah, gelak tawa, dan kerutan lelah di wajah smoga tetap bisa kita ulang bersama di hari-hari esok.

Kekasih, belum terjawabkah tanyamu? Tentang adanya aku tuk tetap temanimu di masa datang. Tak ada yang salah dengan waktu. Yang terjadi di hari-hari lalumu, adalah yang terbaik untukmu di saat itu. Yang terjadi di hari-hari laluku, adalah yang terbaik untukku di momen itu. Kita tak bisa menyatukan cerita di hari lalu. Tapi kekasih, saat ini, adalah milik kita, dan jika Dia berkenan, akan tetap begitu adanya hingga Keabadian menjemput.

Kekasih, Sudahkah tersapu butir-butir cemasmu? Biar kuurai beberapa kata lagi. Sungguh riang hatiku, saat mendengar sedikit saja perubahan positif dalam dirimu. Saat satu perubahan baik dalam dirimu bawa suka cita besar dalam hidupku, bagaimana dirimu akan menyebutnya, bukankah itu cinta?

Jika tersamar di matamu, cobalah pejamkan mata. Ingat kembali pancaran mataku. Tidakkah kau bisa berenang di sana? Tak perduli seberapa sedikit kata yang bisa meyakinkanmu, mata kan selalu setia pancarkan cinta dan sayang, untukmu.

Aside

Touch My Soul

21 Oct

Medan, 21st October 2012      4:17

Image

As dark as the cloud in the sky,

That’s how my heart is this very moment,

The whisper of bamboo leaves,

Throw this feeling far to the the deep of loneliness.

 

The sound of music now is not enough,

This body just stay still, watching the dancing bamboo through the window

But the feeling runs along an endless road,

Please, Catch my soul, make me stop.

Calm my restless heart.

 

Problems,

Troubles,

Stumbling blocks,

Are all parts of life,

Make life worth fighting in their own ways,

I truly know that, I accept that.

 

But dear God,

Watching people I love feeling low and weak,

Make me far weaker than I could imagine,

Touch me please,

Slow this heart beat,

Lighten this heavy breath,

 

You love me, I know.

Hold me high, I surrender.

In you, I and all the people I love will be safe.

Surat Cinta-8

2 Sep

Medan 2nd September 2012

Image

Momen indah/Fotografer: Nansa: Budi Astra Daud Pinem

Dear Ai,

Di sini aku, kadang terperangkap dalam lamunan pencarian arti diri dalam kehidupan yang begitu luas. Kadang kala, lelah timbulkan sebersit tanya: apakah yang kukerjakan sekarang bisa membuat hidupku lebih berarti? Pertanyaan yang terus berulang dan takkan terpuaskan dengan jawaban singkat ‘ya’ atau ‘tidak’.

Kadang kala, kutemukan ragaku kosong. Jiwaku mengembara ke sisi lain nusantara. Kadang, kutemukan diri jauh di pedalaman, bersama mereka yang harus melepas alas kaki, menembus  sungai atau bergelantung menyeberang  jembatan tali untuk mencapai  bangunan sederhana: tempat menuntut ilmu. Kadang kutemukan mataku bercahaya dan tersenyum lebar: melihat cerah masa depan dari jendela mata mereka. Semuanya begitu jelas,  membuat tanganku bergetar dialiri semangat. Namun saat tersadar: aku masih di sini, di antara tugas yang menanti tuk disentuh.

Ada kalanya, kutemukan jiwaku melanglang buana ke sisi lain bumi. Jelas kulihat sosokku berjalan di antara puluhan orang yang berjalan cepat penuh semangat, berpacu menuju tujuan masing-masing. Bisa kurasakan tanganku mendekap buku erat di dada, begitu dekat dengan tujuan memperkaya cakrawala berpikir dan memperdalam kerendahan hati. Gambar yang begitu jelas, sehingga saat tersadar: ukiran senyum masih tersisa di bibir.

Dear ai,

Pernah ingin asal pergi ke mana saja, mencari pendalaman diri dan pengalaman baru: memenuhi tuntutan jiwa yang tak puas dengan kondisi tertentu. Tapi muncul Tanya di hati: adilkah jika aku berlalu begitu saja? Akankah ada sedih di hatimu jika aku harus menghilang jauh dari pandangan mata?

Dear ai,

Tak pernah kutanya padamu: apakah  ketiadaanku bisa mengurangi kebahagiaan di hatimu. Tapi, memikirkan jika benar akan mengurangi suka citamu saja sudah membuatku berpikir ulang. Cinta, kata mereka, tidak egois, tidak hanya mementingkan kepuasan hati sendiri. Dan ai, aku sudah belajar mengurangi egoisme diri: satu langkah dalam pendewasaan diri.

Kecewakah aku? Kutanya hati berulang-ulang, dan kutemukan jawaban ini: Tak ada hal yang terjadi kebetulan. Semua tlah Dia rencanakan. Momen pertama berbagi tawa dan senyum denganmu juga bukanlah kebetulan: ada rencana indah yang telah digoreskan oleh-Nya. Semua mimpi juga tak ada yang mustahil bagi Dia. Sepanjang ada usaha: pasti ada waktu terindah tuk terjelangnya semua mimpi. Apa yang kupikirkan, belum tentu yang terbaik untukku. Tapi apa yang Dia beri padaku, sudah pasti yang terbaik bagi hidupku.

Dear ai,

Sekali lagi, hatiku lebih tahu mengucap syukur. Sungguh beruntung aku, dikelilingi orang-orang yang kucintai dan sangat mengasihiku. Kusyukuri momen pertama mataku melihatmu: momen yang tak pernah terpikir akan mengukir kisah baru dalam lembaran hidupku.  Kuhargai setiap tawa yang kita bagi bersama. Just wanna say this: you mean so much to me.