Archive | Jurnal Kesehatan RSS feed for this section

Inhaler Atasi Impotensi dalam 10 Menit

18 May

pcca.net

SEBUAH inhaler yang bisa membantu lelaki mendapatkan ereksi hanya dalam waktu 10 menit diharapkan bisa menjadi cara baru dalam menangani impotensi. Inhaler tersebut mengandung obat bernama apomorphine dalam bentuk tepung. Obat ini bekerja dengan menstimulasi reseptor zat kimia dalam otak.

Jika hasil tes yang masih sedang berlangsung terbukti sukses, perangkat baru menyerupai inhaler asma ini akan populer di kalangan lelaki penderita disfungsi ereksi.

Obat-obatan seperti Viagra dan obat-obat serupa, termasuk Cialis dan Levitra, telah mengubah pengobatan impotensi dalam sepuluh tahun terakhir. Tapi, sekitar 30 persen lelaki yang menggunakan obat-obatan ini hanya merasakan perubahan kecil atau tidak merasakan perbaikan sama sekali.

Untuk lelaki ini, pilihan lain yang tersedia hanyalah menginjeksi obat langsung ke dalam penis atau menggunakan pompa yang secara manual meningkatkan suplai datah ke penis. Kedua cara ini tidak populer di kalangan lelaki penderita disfungsi ereksi.

Bahkan di antara lelaki yang merespon Viagra dan obat-obatan impotensi lainnya, perlu waktu paling sedikit 40 menit sebelum mereka sipa bercinta. Berdasatrkan perkiraan, sekitar 50 persen lelaki berusia di atas 40 menderiat gangguan impotensi dari waktu ke waktu.

Gangguan ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari diabetes dan kekurangan hormon hingga masalah stres dan depresi.

Sebuah studi baru-baru ini yang dipublikasikan di Journal of Sexual Medicine, menunjukkan bahwa mayoritas dari 600 lelaki pengguna inhaler obat bubuk tersebut mengalami ereksi dalam 10 menit. Produsen inhaler tersebut, Vectura Ltd, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Senin (17/5), berharap bahwa suatu hari nanti inhaler ini akan bersaing dengan Viagra sebagai pengobatan pertama dalam menangani impotensi.

Advertisements

Robert Eckel, MD, tells WebMD

18 May

mad-1.com

HORMON testosteron tidak hanya memengaruhi dorongan seksual tetapi juga turut menentukan kualitas tidur. Penurunan jumlah hormon seks testosteron, menurut temuan peneliti dari Kanada, akan memicu gangguan tidur.

Saat lelaki memasuki usia 30, terang peneliti, kadar testosteron mereka akan turun sebanyak satu hingga dua persen per tahun. Dan saat memasuki usia 40, kualitas tidur lelaki juga mulai menurun.

Peneliti mengungkap adanya hubungan antara penurunan kadar testosteron dengan pengurangan durasi dan kualitas tidur. Penurunan kualitas sperma ini, menurut peneliti dari University of Montreal’s Department of Psychology, Zoran Sekerovic, sangat berkaitan dengan kualitas tidur lelaki berusia di atas 50, khususnya tidur dalam (deep sleep).

“Pada lelaki muda, deep sleep mewakili 10 hingga 20 persen dari tidur total. Pada usia 50, menurun menjadi lima hingga tujuh persen. Sedang pada lelaki usia 60, deep sleep bisa menghilang,” papar Sekerovic, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Senin (17/5).

Seiring penuaan, terang Sekerovic, akan ada saraf yang hilang dan sinkronisasi aktivitas otak tidak sebagus sebelumnya. Hal ini, terang dia, akan menyebabkan hilangnya deep sleep.

Hilangnya tidur dalam ini, lanjut Sekerovic, bisa ditangani dengan testesteron.”Cara ini akan menghasilkan perbaikan signifikan.” Akan tetapi, terang dia lagi, terapi hormon juga mempunyai efek samping. Karena itu, sangat penting untuk memahami mekanisme penyebab hilangnya deep sleep.

Sekerovic menerangkan bahwa penurunan kadar testosteron memengaruhi tidur. Tapi berdasarkan temuan studi, lanjut dia, hal ini tidak berlaku sebaliknya.

Hidung Besar Cegah Pilek

17 May

holymoly.com

MESKIPUN hidung besar seringkali menjadi sumber ejekan, peneliti menemukan bahwa hidung besar mencegah serangan demam dan virus flu. Semakin besar hidung, semakin besar pula pertahanan alami yang secara fisik akan menghambat partikel-partikel debu dan bakteri di udara memasuki tubuh.

Temuan tim peneliti dari University of Iowa, Amerika Serikat, ini, merupakan berita bagus untuk aktris Sex and The City Sarah Jessica Parker, penyanyi Barbra Streisand dan Barry Manilow serta aktor Gerard Depardieu yang dikenal karena dimensi hidung mereka.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Annals Of Occupational Hygiene ini menemukan, hidung-hidung berukuran besar menghirup sekitar 7 persen lebih sedikit polutan. Selain itu, hidung besar berperan sebagai penghalang untuk menangkis kuman-kuman agar menjauh dari mulut.

Dalam studi ini, peneliti menciptakan dua hidung buatan. Salah satunya 2,3 kali lebih besar dibandingkan hidung satunya. Masing-masing hidung ditempatkan di kepala buatan secara bergantian dan divariasikan dengan dua set bibir (dengan ukuran yang berbeda juga). Bibir menutup ujung salah satu pipa dan menarik udara yang mengandung serangkaian partikel.

Hasil menunjukkan, hidung yang berukuran lebih besar menarik 6,5 kali lebih sedikit partikel. Selain itu, bibir besar juga mengurangi asupan partikel hingga 3,2 persen.

“Hidung menonjol keluar dan memberikan perlindungan lebih besar kepada mulut. Hidung besar menurunkan risiko terinfeksi. Selain itu, hidung besar juga kemungkinan bekerja menyaring serbuk bunga,” tutur pemimpin studi Dr Renee Anthony, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Minggu (16/5).

Duduk Terlalu Lama Picu Hipertensi dan Diabetes

17 May

backinaction.co.uk

ANDA bisa saja rajin ke gym dan berlari di sekitar rumah. Akan tetapi, usaha ini tidak akan maksimal jika Anda menghabiskan waktu sisanya untuk duduk. Para pakar mengingatkan, terlalu lama duduk di kursi bisa meningkatkan risiko hipertensi, metabolisme lamban dan penambahan berat badan.

Menurut peneliti dari Swedia, yang dikutip jurnal British Journal of Sports Medicine, duduk terlalu lama bisa mengancam kesehatan masyarakat.

Apa penyebabnya? Duduk, menurut peneliti, merupakan aktivitas nomor dua paling tidak aktif (setelah berbaring). Saat duduk, Anda hanya membakar sedikit kalori. Aktivitas makan apel, menurut peneliti, menggunakan lebih banyak energi dibandingkan mengistirahatkan pantat Anda di atas kursi.

Berdiri, lanjut peneliti, akan menggerakkan otot-otot di punggung, bahu dan kaki. Sedang duduk sama sekali tidak menghadirkan tantangan fisik positif terhadap tubh. Duduk justru memaksa tubuh memasuki kondisi tidak aktif. Orang yang duduk untuk jangka waktu lama, terang peneliti, hampir tidak bisa menghindari penambahan ukuran lingkar pinggang.

Peneliti menemukan, rata-rata orang orang kurus berdiri dua jam lebih lama per harinya dibadingkan mereka yang kelebihan berat badan. Dan mereka yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk, menurut temuan peneliti, berisiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan terkait berat badan dibandingkan mereka yang bergerak secara teratur (bahkan hanya bergerak untuk membuat kopi).

“Duduk untuk jangka waktu lama benar-benar tidak baik dan banyak orang mengira bahwa mereka lebih aktif dibandingkan sebenarnya,” terang Stuart Biddle, seorang profesor bidang psikologi olahraga dari Loughborough University, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Senin (17/5).

Gerakan teratur juga penting untuk menjaga postur yang baik. Juru bicara Chartered Society of Physiotherapists, Sammy Margo, menyatakan, tulang belakang didisain tidak untuk duduk berjam-jam. Duduk terlalu lama, terang dia, akan merusak postur tubuh, mengganggu pernapasan dan pencernaan.

Makanan Berlemak Picu Asma

17 May

msn.com

ANDA tentunya sudah tahu bahwa makanan sarat lemak buruk untuk jantung. Akan tetapi, menurut temuan peneliti, makanan berlemak juga mengganggu fungsi paru-paru.

Peneliti dari Australia menguji penderita asma sebelum dan sesudah mengonsumsi makanan tinggi lemak atau setelah mengonsumsi makanan rendah lemak. Peneliti menemukan bahwa makanan tinggi lemak meningkatkan peradangan dan menurunkan fungsi paru-paru.

“Ini merupakan studi pertama yang melihat efek makanan kaya lemak terhadap peradangan saluran pernapasan. Hasil awal menunjukkan, empat jam setelah mengonsumsi makanan, partisipan yang mengonsumsi makanan tinggi lemak mengalami peningkatan jumlah peradangan. Selain itu, mereka juga mengalami gangguan respon terhadap obat-obatan asma,” terang penulis utama studi, Lisa Wood, dari Hunter Medical Research Institute di New Lambton, seperti dikutip situs healthday.com, Minggu (16/4).

Jika hasil ini bisa ditegaskan oleh studi selanjutnya, terang Wood, strategi mengurangi asupan lemak bisa berperan dalam mengontrol asma.

Dalam studi ini, peneliti melibatkan 30 penderita asma yang tidak obesitas dan 16 orang dewasa yang obesitas. Partisipan yang tidak obesitas secara acak diberikan makanan tinggi lemak atau makanan rendah lemak. Sedang semua partisipan yang obesitas diberikan makanan tinggi lemak.

Makanan tinggi lemak terdiri dari hamburger cepat saji dan kentang goreng. Makanan ini mengandung sekitar 1.000 kalori, termasuk 60 gram lemak. Artinya, sekitar 50 persen makanan ini adalah lemak. Makanan normal, menurut Asosiasi Jantung Amerika, sebaiknya mengandung tidak lebih dari 25 persen hingga 35 persen kalori dari lemak.

Sedang makanan rendah lemak terdiri dari yogurt rendah lemak. Makanan ini sekitar 200 kalori dan mengandung 13 persen lemak.

Peneliti mengambil sampel dahak di awal studi dan empat jam setelah makan. Selain itu, peneliti juga menguji fungsi paru-paru di awal dan empat jam setelah makan.

Peneliti menemukan bahwa penanda peradangan saluran pernapasan meningkat secara signifikan pada partisipan yang mengonsumsi makanan tinggi lemak. Seain itu, fungsi paru-paru mereka juga turut terganggu.

Di samping itu, orang-orang dengan makanan tinggi lemak yang selanjutnya menggunakan inhaler asma hanya mengalami satu persen perbaikan dalam fungsi paru-paru. Sedang partisian dengan diet rendah lemak mengalami 4,5 persen perbaikan fungsi paru-paru setelah menggunakan inhaler.

Peneliti menyatkan belum tahu berapa lama efek ini akan bertahan. Tapi jika Anda mengonsumsi makanan tinggi lemak setiap hari, terang peneliti, Anda akan mengalami efek ini selama paling tidak beberapa jam sehari.

Penggunaan Ponsel Lebih 30 Menit Sehari Picu Kanker

17 May

topnews.in

PENGGUNAAN ponsel untuk jangka waktu lama selama bertahun-tahun, menurut temuan peneliti, bisa meningkatkan risiko kanker. Akan tetapi, studi utama dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai keamanan penggunaan ponsel ini diharapkan tidak mengambil kesimpulan mengenai hubungan kanker dan ponsel. Pasalnya, bukti yang ada belum cukup meyakinkan.

Laporan dari WHO ini, seperti dikutip dailymail.co.uk, Minggu (16/5), belum akan diluncurkan hingga akhir minggu ini. Tapi, dua surat kabar nasional di Inggris sudah melaporkan akan mengutip bukti yang menyebutkan orang-orang yang menggunakan ponsel selama paling tidak 30 menit sehari selama 10 tahun memiliki risiko lebih besar (sekitar sepertiga lebih tinggi) mengalami kanker otak.

Penelitian melalui telepon (Interphone study) ini telah dilakukan selama 10 tahun terakhir di 13 negara. Studi ini merupakan studi terbesar di antara studi-studi lain yang melihat hubungan antara ponsel dan kanker.

Meskipun sudah diketahui bahwa radiasi yang dipancarkan ponsel diserap oleh kepala saat dipegang di telinga, belum bisa dibuktikan bahwa sering-sering menggunakan ponsel bisa merusak kesehatan. Hal ini karena ponsel belum digunakan secara luas untuk jangka waktu lama.

Antara 2000 dan 2004, para peneliti sudah mewawancarai hampir 13.000 orang (baik penderita tumor dan partisipan sehat) untuk melihat apakah mereka menggunkaan ponsel dengan cara berbeda.

Beberapa studi ini telah dipublikasikan secara individu dan menunjukkan adanya peningkatan risiko glioma (tipe tumor otak yang paling umum diderita) pada orang-orang yang berbicara menggunakan ponsel sebanyak 30 menit sehari selama 10 tahun. Banyak juga studi yang melihat adanya pertumbuhan tumor di sisi kepala yang paling sering ditempeli ponsel.

Akan tetapi, hasil temuan sebelumnya yang beragam dan tidak bisa disimpulkan, menimbulkan keragu-raguan besar. Salah satu studi sebelumnya misalnya, justru menyebutkan bahwa penggunaan ponsel jangka pendek bisa melindungi otak dari kanker.

Akan tetapi, penulis studi tersebut meyakini bahwa temuan ini sangat tidak memungkinkan. Peneliti yang mengungkap temuan tersebut juga menyatakan perlunya studi lebih jauh. Para pemerintah dari berbagai negara dan produsen ponsel sedang menunggu pengumuman temuan Interphone study yang dilakukan oleh WHO ini.

Departemen Kesehatan Inggris belum memperbarui panduan penggunaan ponsel selama lebih dari empat tahun. Panduan tersebut menyebutkan bahwa anak-anak sebaiknya dilarang menelpon jika tidak benar-benar diperlukan. Sedang orang dewasa sebaiknya menelpon untuk durasi singkat saja.

Selain itu, negara-negara lain sudah mengeluarkan panduan lebih jauh. Panduan tersebut seperti pengguna dianjurkan memakai hands-free, memilih mengirim pesan dibandingkan menelpon, atau melarang iklan penggunaan ponsel pada anak-anak.

Asap Lalu Lintas Bikin Mandul

17 May

babble.com

POLUSI asap lalu lintas tidak hanya mengganggu kesehatan jantung dan paru-paru tapi juga merusak kesuburan. Tinggal di dekat jalan yang sibuk, menurut temuan peneliti, mengurangi tingkat keberhasilan perawatan kesuburan hingga hampir 25 persen.

Sebuah studi yang melibatkan ribuan pasien IVF (In vitro fertilisation) menemukan, partisipan yang secara teratur menghisap asap lalu lintas memiliki kemungkinan mengalami pembuahan 24 persen lebih kecil dibandingkan partisipan yang hidup di area bebas polusi.

Peneliti mengatakan, nitrogen dioksida (racun yang dikeluarkan mobil dan knalpot truk, pembangkit listrik dan kompor gas), mempunyai dampak besar terhadap kemungkinan perempuan memiliki anak seiring penuaan.

Meskipun polusi udara sebelumnya telah dikaitkan dengan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat lahir, ini merupakan studi pertama yang menunjukkan pengaruh polusi terhadap keberhasilan perempuan mengalami pembuahan.

Dalam studi ini, peneliti membandingkan tingkat kesuksesan dari hampir 7.500 pasien IVF dengan kadar polusi di dekat rumah mereka dan klinik tempat mereka menjalani perawatan. Peneliti menemukan bukti konsisten mengenai adanya hubungan antara kadar nitrogen dioksida tinggi di udara dengan penurunan kesuksesan IVF.

Saat kadar nitrogen dioksida di dekat rumah atau klinik partisipan lebih tinggi dari kadar rata-rata 0,019 parts per million (ppm), kemungkinan memiliki bayi juga menurun. Setiap penambahan 0,01 ppm, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Human Reproduction ini, setara dengan penurunan kesempatan antara 13 dan 14 persen.

Polusi udara, seperti merokok, terang peneliti dari University of Pennsylvania, bisa merusak kesempatan perempuan menjadi ibu. Peneliti belum mengungkap penyebab pastinya. Tapi mereka meyakini bahwa asap lalu lintas merusak telur atau mengurangi aliran darah ke rahim dan plasenta.

“Ada hubungan signifikan antara polusi udara dengan peradangan dan peningkatan pengentalan darah. Faktor-faktor ini juga berkaitan dengan kesehatan reproduksi,” tutur penulis studi Dr Richard Legro, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Rabu (12/5).