Archive | August, 2012

Refleksi Diri

12 Aug

Medan, 12 agustus 2012

Image

Refleksi Diri

Saat dihadapakan pada berbagai pilihan dengan konsekuensi  sulit, kusadar satu hal: aku belum cukup dewasa. Aku tahu, aku tidak bisa memiliki semuanya tanpa mengorbankan satu hal pun. Sisi tamak yang kadang muncul: biarlah aku mengorbankan satu hal ini setelah mendapatkan hal itu. Tapi hidup ternyata menuntut lebih dewasa dari itu.

Jika ingin mengubah sesuatu, terlebih dahulu harus rela kehilangan dan mengorbankan sesuatu hal, bahkan dengan risiko gagal sekalipun. Dalam arti: dari awal harus siap kehilangan banyak  hal untuk mencoba mendapatkan Sesuatu yang menurut kita berharga, sesuatu yang bahkan bisa saja belum bisa dicapai pada saat itu.

Siapkah aku?

Satu pertanyaan dengan jawaban singkat, hanya menyatakan iya atau tidak saja, kadang begitu sulit untuk dijawab. Seberapa pantaskah aku menyebut diriku dewasa? Umur bisa bertambah, namun beberapa sisi diri ternyata tetap jalan di tempat: di mana sikap kanak-kanak betah bertahan.

Saat pikiran tumpul, bahkan untuk sebutkan ‘iya’ atau ‘tidak’ saja, aku hanya bisa kembali kepadaMu. Saat hati begitu penuh sesak, aku menunduk di hadapMu. Karena aku tahu, tak perduli bagaimana kondisiku, bagaimana dunia memandangku, Engkau akan tetap mencintaiku, tak pernah berkurang sedikitpun. Tak perduli betapa sering aku berpaling dan menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, Engkau tetap menuntunkan, langkah demi langkah.

Dengan memandang wajahMu, aku bisa melihat jelas gambar-gambar mereka yang telah tersimpan  di memori pikiran. Begitu jelas, sampai aku merasa bisa menyentuhnya. Wajah-wajah yang penuh cinta dan kasih. Kembali kusadar satu hal: aku begitu dicintai. Engkau mencintaiku dan cintaMu bisa kurasakan dari mereka. Sungguh berbahagia aku.

Kini, sanggupkah aku?—“Tentu,” jawab hatiku pasti. Karena aku memilikiMu.

Advertisements