Tag Archives: rasa

Yang Lalu BUkan Esokku

6 Oct

Medan 6th October 2013

Image

Berlalu sudah jejak-jejak masa lalu,

Segar diingatan tapi takkan terulang lagi,

Riang tawa itu, kan jadi milikku selamanya,

Rasa sakit itu, tlah tawar kini,

Pudar tak berbekas.

 

Entah sejak kapan,

Tlah berhenti ku merindu hari-hari lalu.

Tak lagi kusesali momen-momen yang kian jauh.

Hari lalu bukan milikku.

Hari ini dan esok, kurengkuh suka citaku.

 

Hai engkau yang kini ada di teduh mataku,

Warnailah hari –hari esokku dengan caramu.

You and I

8 Apr

Medan, 8th April 2013

Image

Normal human I am;

I have dreams,

I fall in love,

Just like they do

 

Am I too greedy for wanting them both?

The dreams and love,

The dreams make this life worth-fighting for,

Love makes all the sadness and difficulties in life easier to bear.

 

Never could I separate my love and dreams,

Because in the end:

Dreams have no meaning without love.

 

Dear love,

You’re the final destination of all my dreams.

No matter how far I wanna  go for the dreams,

It’s to you I’ll always return.

Surat Cinta-9

18 Nov

Medan, Sunday, 18th November 2012      7:28

Image

Dear ai,

Sebelum menyatu dengan ketenangan malam, biar kuhapus resah yang mungkin pernah terbersit di hatimu, akan keberadaan diriku . Kekasih, suka di hati, bisa mengisi hari ini bersamamu. Tak perduli berapa kali ekspresi muka berubah karena lelah, hatiku tenang telah mengukirkan kenangan manis untuk hari ini, bersamamu. Jejak langkah, gelak tawa, dan kerutan lelah di wajah smoga tetap bisa kita ulang bersama di hari-hari esok.

Kekasih, belum terjawabkah tanyamu? Tentang adanya aku tuk tetap temanimu di masa datang. Tak ada yang salah dengan waktu. Yang terjadi di hari-hari lalumu, adalah yang terbaik untukmu di saat itu. Yang terjadi di hari-hari laluku, adalah yang terbaik untukku di momen itu. Kita tak bisa menyatukan cerita di hari lalu. Tapi kekasih, saat ini, adalah milik kita, dan jika Dia berkenan, akan tetap begitu adanya hingga Keabadian menjemput.

Kekasih, Sudahkah tersapu butir-butir cemasmu? Biar kuurai beberapa kata lagi. Sungguh riang hatiku, saat mendengar sedikit saja perubahan positif dalam dirimu. Saat satu perubahan baik dalam dirimu bawa suka cita besar dalam hidupku, bagaimana dirimu akan menyebutnya, bukankah itu cinta?

Jika tersamar di matamu, cobalah pejamkan mata. Ingat kembali pancaran mataku. Tidakkah kau bisa berenang di sana? Tak perduli seberapa sedikit kata yang bisa meyakinkanmu, mata kan selalu setia pancarkan cinta dan sayang, untukmu.

Surat Cinta-8

2 Sep

Medan 2nd September 2012

Image

Momen indah/Fotografer: Nansa: Budi Astra Daud Pinem

Dear Ai,

Di sini aku, kadang terperangkap dalam lamunan pencarian arti diri dalam kehidupan yang begitu luas. Kadang kala, lelah timbulkan sebersit tanya: apakah yang kukerjakan sekarang bisa membuat hidupku lebih berarti? Pertanyaan yang terus berulang dan takkan terpuaskan dengan jawaban singkat ‘ya’ atau ‘tidak’.

Kadang kala, kutemukan ragaku kosong. Jiwaku mengembara ke sisi lain nusantara. Kadang, kutemukan diri jauh di pedalaman, bersama mereka yang harus melepas alas kaki, menembus  sungai atau bergelantung menyeberang  jembatan tali untuk mencapai  bangunan sederhana: tempat menuntut ilmu. Kadang kutemukan mataku bercahaya dan tersenyum lebar: melihat cerah masa depan dari jendela mata mereka. Semuanya begitu jelas,  membuat tanganku bergetar dialiri semangat. Namun saat tersadar: aku masih di sini, di antara tugas yang menanti tuk disentuh.

Ada kalanya, kutemukan jiwaku melanglang buana ke sisi lain bumi. Jelas kulihat sosokku berjalan di antara puluhan orang yang berjalan cepat penuh semangat, berpacu menuju tujuan masing-masing. Bisa kurasakan tanganku mendekap buku erat di dada, begitu dekat dengan tujuan memperkaya cakrawala berpikir dan memperdalam kerendahan hati. Gambar yang begitu jelas, sehingga saat tersadar: ukiran senyum masih tersisa di bibir.

Dear ai,

Pernah ingin asal pergi ke mana saja, mencari pendalaman diri dan pengalaman baru: memenuhi tuntutan jiwa yang tak puas dengan kondisi tertentu. Tapi muncul Tanya di hati: adilkah jika aku berlalu begitu saja? Akankah ada sedih di hatimu jika aku harus menghilang jauh dari pandangan mata?

Dear ai,

Tak pernah kutanya padamu: apakah  ketiadaanku bisa mengurangi kebahagiaan di hatimu. Tapi, memikirkan jika benar akan mengurangi suka citamu saja sudah membuatku berpikir ulang. Cinta, kata mereka, tidak egois, tidak hanya mementingkan kepuasan hati sendiri. Dan ai, aku sudah belajar mengurangi egoisme diri: satu langkah dalam pendewasaan diri.

Kecewakah aku? Kutanya hati berulang-ulang, dan kutemukan jawaban ini: Tak ada hal yang terjadi kebetulan. Semua tlah Dia rencanakan. Momen pertama berbagi tawa dan senyum denganmu juga bukanlah kebetulan: ada rencana indah yang telah digoreskan oleh-Nya. Semua mimpi juga tak ada yang mustahil bagi Dia. Sepanjang ada usaha: pasti ada waktu terindah tuk terjelangnya semua mimpi. Apa yang kupikirkan, belum tentu yang terbaik untukku. Tapi apa yang Dia beri padaku, sudah pasti yang terbaik bagi hidupku.

Dear ai,

Sekali lagi, hatiku lebih tahu mengucap syukur. Sungguh beruntung aku, dikelilingi orang-orang yang kucintai dan sangat mengasihiku. Kusyukuri momen pertama mataku melihatmu: momen yang tak pernah terpikir akan mengukir kisah baru dalam lembaran hidupku.  Kuhargai setiap tawa yang kita bagi bersama. Just wanna say this: you mean so much to me.

Refleksi Diri

12 Aug

Medan, 12 agustus 2012

Image

Refleksi Diri

Saat dihadapakan pada berbagai pilihan dengan konsekuensi  sulit, kusadar satu hal: aku belum cukup dewasa. Aku tahu, aku tidak bisa memiliki semuanya tanpa mengorbankan satu hal pun. Sisi tamak yang kadang muncul: biarlah aku mengorbankan satu hal ini setelah mendapatkan hal itu. Tapi hidup ternyata menuntut lebih dewasa dari itu.

Jika ingin mengubah sesuatu, terlebih dahulu harus rela kehilangan dan mengorbankan sesuatu hal, bahkan dengan risiko gagal sekalipun. Dalam arti: dari awal harus siap kehilangan banyak  hal untuk mencoba mendapatkan Sesuatu yang menurut kita berharga, sesuatu yang bahkan bisa saja belum bisa dicapai pada saat itu.

Siapkah aku?

Satu pertanyaan dengan jawaban singkat, hanya menyatakan iya atau tidak saja, kadang begitu sulit untuk dijawab. Seberapa pantaskah aku menyebut diriku dewasa? Umur bisa bertambah, namun beberapa sisi diri ternyata tetap jalan di tempat: di mana sikap kanak-kanak betah bertahan.

Saat pikiran tumpul, bahkan untuk sebutkan ‘iya’ atau ‘tidak’ saja, aku hanya bisa kembali kepadaMu. Saat hati begitu penuh sesak, aku menunduk di hadapMu. Karena aku tahu, tak perduli bagaimana kondisiku, bagaimana dunia memandangku, Engkau akan tetap mencintaiku, tak pernah berkurang sedikitpun. Tak perduli betapa sering aku berpaling dan menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, Engkau tetap menuntunkan, langkah demi langkah.

Dengan memandang wajahMu, aku bisa melihat jelas gambar-gambar mereka yang telah tersimpan  di memori pikiran. Begitu jelas, sampai aku merasa bisa menyentuhnya. Wajah-wajah yang penuh cinta dan kasih. Kembali kusadar satu hal: aku begitu dicintai. Engkau mencintaiku dan cintaMu bisa kurasakan dari mereka. Sungguh berbahagia aku.

Kini, sanggupkah aku?—“Tentu,” jawab hatiku pasti. Karena aku memilikiMu.

Surat Cinta-7

22 Jul

Sunday 22 July 2012                        7:58

Image

Dear ai,

Jika mengulang kata bisa membuatmu merasa lebih baik, maka dengan senang hati akan tetap kuulang kembali: tentang rasa dan tentang adanya kita. Biar kusegarkan kembali dengan kalimat lama: dingin kesannya caraku mencinta, tapi seberapa besarnya pun ruang di hati hangatku, tetap hanya bisa menampung satu nama. Sepanjang dirimu menginginkannya, lukiskanlah namamu di dalamnya: lagi dan lagi. Kan slalu ada cukup ruang di dalamnya.

Jarak dan segudang ucap dari sekeliling, jangan biarkan usik hati dan pikirmu. Biarlah rangkaian kata dari sekitar  perkuat rasa di hati. Sepanjang dirimu mencinta dengan tulus, aku akan tetap ada. Kuhargai keberadaanmu sebagai jawaban dari bisik doa.

Jika ingin satu kepastian, dengarlah bisik kata ini:  tak pernah terlintas di pikirku tuk pergi menjauh dan mengakhiri apa yang sudah terjalin. Inginku: kebersamaan saat ini hanya lah langkah awal tuk mewujudkan mimpi selanjutnya. Melalui momen-momen yang kita jalani  saat ini, cobalah mengenaliku dari dua sisi: kelebihan dan kekurangan. Bagaimana pun, jika ingin melangkah bersama, kita harus bisa mencintai kekurangan masing-masing.

Dear ai,

Hidup tetap berjalan dengan dua sisi berdampingan: tawa- tangis, senyum- cemberut, senang-sedih, fit-lelah. Dan kekasih, aku juga berada dalam lingkaran yang sama. Kadang, lelah buatku lupa tersenyum padamu. Itulah adanya aku, lihatlah dari dua sisinya. Jika cinta dan kasih yang kita tanam kuat, maka kita akan selalu bersama. Kapan mengakhiri rentang jarak? Waktunya pasti akan tiba. 🙂

Lonely

28 Jun

Medan, 28 June 2012

Image

When I closed my eyes,

Tried hard not to let these tears down,

Afraid so much they would see me,

You were not there.

 

I dig a hole in my heart,

To keep all this hurt,

I keep digging it deeper and deeper to take all the pain

You were too far to be reached.

 

When I had a lot to say,

Badly need your ears,

To reduce the ringing voice in my brain and my heart,

You were too tired of your own burden.

 

When I was finally alone and let these tears run as they pleased,

Wished so much that your heart could hear mine,

Hoped  that  your voice could stop this hurting heart beat,

You kept being too far away,

Busy to comfort yourself.

 

When I need you, you aren’t here,

When you need me, I am not  there either,

People say: alone but not lonely.

But now, I am alone and feeling lonely.