Archive | Self-Reflection RSS feed for this section

Saat Teduh Mulai Menyapa

31 Jul
pinterest.com

pinterest.com

Setahun lebih, terpuruk rasa hati dan fisik. Saat terdiam, sakit di hati semakin terasa. Bahkan saat bercerita, tersenyum dan tertawa, ada kalanya sedih menyelinap, mencuri keindahan senyum tawa.

Selama ini pula, kuracuni pikiran dan kuporak-porandakan kekokohan hati yang sudah terbangun dua puluh tahun sebelumnya. Betapa gampangnya kesedihan, luka, sakit menghancurkan sisi positif yang dibangun perlahan lewat cinta orang-orang terkasih dan proses pendidikan.

Dalam kurun ini pula, kelembutan hati tertutp oleh emosi. Ramah tutur kata tercemari amarah tak terkendali. Keyakinan terkikis putus asa. Gelak tawa tercuri tetes air mata. Cinta terusik kesal. Bisik doa diperlemah kecewa.

Apakah yang kurang? Adakah yang salah?
Lama tak kutemukan jawab dalam kerapuhan dan kegersangan hati, hingga akhirnya keteduhan dan suasana penuh cinta kasih di Namo Pencawir bangunkanku dari tidur panjangku. Hanya satu yang kurang dalam kehidupanku: IMAN. Selama ini, keterpurukan dan kekecewaan telah mencuri percayaku akan belas kasih, kemurahan, pertolongan, berkat dan anugerah-Nya.

Hidupku bukan milikku. Tak ada hakku bahkan atas sehelai rambutku. Jadi mengapa aku begitu cemas? Sementara Dia begitu mencintaiku, begitu rindu akan ketulusan dan percaya hatiku terhadap janji-Nya.

Tak perduli apakah fisik masih merasa terbebani. Yang benar adanya, hati ini telah diubahkan, disentuh dengan bisik kasih: Aku mengasihimu. Ini aku, datang dengan segala kerapuhan dan kelemahanku, dengan segala kesedihan dan kecemasanku. Kuletakkan semuanya di kaki-Mu.

Biarlah kembali senyum tawaku. Biarlah kembali lembut hati dan tutur kataku. Biar tetap kuucap syukur dalam setiap langkah. Biar kulihat keindahan dari semua ciptaan.
Mampukan aku tuk selalu mencintai dengan tulus.

Percaya aku, indah hari depanku dalam rancangan tangan kasih-Mu. 🙂

Advertisements

Refleksi Diri

12 Aug

Medan, 12 agustus 2012

Image

Refleksi Diri

Saat dihadapakan pada berbagai pilihan dengan konsekuensi  sulit, kusadar satu hal: aku belum cukup dewasa. Aku tahu, aku tidak bisa memiliki semuanya tanpa mengorbankan satu hal pun. Sisi tamak yang kadang muncul: biarlah aku mengorbankan satu hal ini setelah mendapatkan hal itu. Tapi hidup ternyata menuntut lebih dewasa dari itu.

Jika ingin mengubah sesuatu, terlebih dahulu harus rela kehilangan dan mengorbankan sesuatu hal, bahkan dengan risiko gagal sekalipun. Dalam arti: dari awal harus siap kehilangan banyak  hal untuk mencoba mendapatkan Sesuatu yang menurut kita berharga, sesuatu yang bahkan bisa saja belum bisa dicapai pada saat itu.

Siapkah aku?

Satu pertanyaan dengan jawaban singkat, hanya menyatakan iya atau tidak saja, kadang begitu sulit untuk dijawab. Seberapa pantaskah aku menyebut diriku dewasa? Umur bisa bertambah, namun beberapa sisi diri ternyata tetap jalan di tempat: di mana sikap kanak-kanak betah bertahan.

Saat pikiran tumpul, bahkan untuk sebutkan ‘iya’ atau ‘tidak’ saja, aku hanya bisa kembali kepadaMu. Saat hati begitu penuh sesak, aku menunduk di hadapMu. Karena aku tahu, tak perduli bagaimana kondisiku, bagaimana dunia memandangku, Engkau akan tetap mencintaiku, tak pernah berkurang sedikitpun. Tak perduli betapa sering aku berpaling dan menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, Engkau tetap menuntunkan, langkah demi langkah.

Dengan memandang wajahMu, aku bisa melihat jelas gambar-gambar mereka yang telah tersimpan  di memori pikiran. Begitu jelas, sampai aku merasa bisa menyentuhnya. Wajah-wajah yang penuh cinta dan kasih. Kembali kusadar satu hal: aku begitu dicintai. Engkau mencintaiku dan cintaMu bisa kurasakan dari mereka. Sungguh berbahagia aku.

Kini, sanggupkah aku?—“Tentu,” jawab hatiku pasti. Karena aku memilikiMu.