Archive | Love Letter RSS feed for this section

Surat Cinta-11 (Kilas Balik)

4 Feb

Medan, 3rd Feb 2014

google.com

google.com

Dear ai,

“Nothing comes from nothing”, salah satu kutipan favoritku. Segala apa yang kita peroleh ada kaitannya dengan apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Kebaikan selalu berbuah hal-hal yang baik pula. Mungkin tidak diterima secara langsung tapi lewat perantaraan orang lain.

Adakah kaitan kutipan ini denganmu? Tentu ai. Menemukanmu adalah berkat dan suka cita. Suatu kebaikan dalam hidupku. Dengan menemukanmu aku meyakini satu hal: pasti ada hal baik yang telah kulakukan di masa lalu.

Dear ai,

Beberapa hari lalu, kudengar kalimat ini dari radio,” setiap kejadian dalam hidup kita, sekecil apa pun itu, telah dirancang oleh Tuhan. Tak ada yang luput dari rancangan tangannya.” Untuk sesaat, aku tertegun dan membiarkan pikiran megatif melintas di kepalaku: apakah serangkaian hal kurang menyenangkan yang kualami belakangan ini juga rancanganNya? Setega itukah Dia kepadaku? Hal buruk apakah yang telah kulakukan?

Dear ai,

Pikiran negatif semuanya lenyap begitu aku melihat rangkaian kejadian belakangan ini dari sudut pandang lain. Dalam setiap cobaan yang kualami, Dia juga berikan aku pendampingan dan cinta kasih yang begitu besar melalui orangtua, saudara, teman, dan yang pasti melalui hadirmu.

“There must be blessing in disguise,” kutipan dari film Pride and Prejudice. Pasti ada berkat tersembunyi dari setiap kejadian, bahkan kejadian terburuk sekalipun.

Kubiarkan bibirku rekahkan senyum dan ucap syukur karena Dia telah merancang pertemuan kita dengan begitu indahnya. Pertemuan tak terduga yang setiap kali kukenang selalau meninggalkan sentuhan tersendiri di hatiku. Selaku pencinta sastra, aku merasakan sisi romantisme dari awal tatap mata kita.

Tuhan begitu baik, berikan aku kisah cinta yang luar biasa indahnya. Ternyata kehangatan cinta Elisabeth dan Robert Browning yang tertuang dalam baris-baris puisi mereka bukanlah kisah terindah di dunia, setidaknya tidak lagi untukku.

Setiap keping mata uang punya dua sisi. Dan jika Dia telah merancangnya sedemikian rupa, biarlah kepingan diriku melengkapi sisi dirimu dan begitu pula sebaliknya.

“Billy,” ucapmu kala itu sambil mengulurkan tangan. Aku bahkan tak terlalu ingat ekspresi awalmu.

“Ika,” ucapku sehangat dan seceria mungkin, sesuai dengan disain awal Melati, menghiburmu sebelum bertemu teman barumu.

Kala itu, masih ada dua sisi terpisah dalam satu diriku. Satu sisi adalah tampilan luarku, yang harus selalu riang tuk mengundang tutur katamu. Dan satu sisi lagi adalah sisi hati yang masih merana, sibuk dan bingung merapikan serpihan hati. Fixing a broken heart, seperti kata lagu.

Aku begitu sibuk mencairkan suasana dan merapikan hati di saat itu, sehingga tak banyak yang bisa kuingat. Tapi Dia begitu besar, bisa merancang hal kecil bermakna besar yang akan mengaitkanku denganmu.

“Jaga tanganmu. Jangan sembarangan menyentuh orang saat berbicara, apalagi kaum adam. bagimu, sentuhan itu hanya tanda keramahan atau mungkin hanya kebiasaan jelekmu saja. Tapi mereka bisa memaknainya berbeda,” ucap Elma beberapa tahun lalu saat aku masih duduk di bangku kuliah. Ucapan yang selalu kuingat dan membuatku berhasil menghentikan kebiasan menyentuh lawan bicara, setidaknya aku berhasil sebelum bertemu denganmu.

Di momen awal pertemuan kita, aku telah memukul ringan kakimu sambil tertawa. Momen kecil yang tanpa kusadari tetap berdiam di ingatan jangka panjangku. Momen yang kedepannya menjadi pembuka dan penghubung pintu hatiku denganmu.

Tahun pertama kebersamaan kita, mungkin bukan tahun yang begitu indah dari sisi pandangmu. Mengenalku yang keras kepala, moody, super cuek dan kadang mungkin terkesan mengabaikanmu. Jika muncul kesal di hatimu, selalau dinginkan dengan fakta ini: tak perduli seberapa dingin sikapku padamu, aku tak pernah sekali pun mengalihkan pandangan mata dan hati ke orang lain, hanya padamu (karena aku selalau memakai kaca mata kuda 🙂

Dear ai,

Cintaku padamu mungkin pada pandangan kedua, tapi bukan bearti tidak sedalam cinta pada pandangan pertama. Aku bahkan yakin lebih dalam dari itu 🙂

Dear ai,

Ada satu kutipan yang pernah kubaca,” kamu mungkin tidak berarti apa-apa bagi dunia. Tapi bagi seseorang, kamu adalah segalanya, kamu adalah dunianya.” Setelah mengenalmu, kupahami ternyata kutipan ini ada benarnya. Tak sedikit kalimat bernada kurang positif yang kudengar saat pertama mengenalmu.

“Kalian tidak cocok.”

“Dia terlalu pendiam.”

“Dia bukan tipe idealmu.”

Dan banyak lagi yang kudengar. Tapi ai, aku selalau melihat kebaikan dan sisi postifmu dari setiap kalimat tersebut. Seiring berjalannya waktu, aku tahu engkau berarti begitu banyak dalam hidupku. Kesadaran ini muncul bukan karena cintaku buta, tapi karena cintaku adalah cinta yang murni dari hati, cinta yang bersedia memahami. Cinta yang ditanamn olehNya dan tentu tak pernah bisa kutolak. Cinta yang menghangatkan kebekuan hati, cinta yang menyemarakkan kegersangan hati.

Dear ai,

Tak terasa kebersamaan kita telah memasuki tahun ke-4. Telah sampai aku pada satu pemahaman: hidupku takkan pernah selengkap ini tanpamu.

Dear ai,

Segala kesusahan yang telah engkau rasakan tuk memahamiku selama ini akan kutebus dengan mendampingimu sepanjang hidupku. Tentu saja jika Dia mengijinkan. Tentu saja jika sesuai dengan rancanganNya. Tapi aku percaya, Dia telah mempunyai rencana indah saat mempertemukan kita. Semoga kita segera bisa menjelang rencana indah yang telah Dia rancang untuk kita ke depannya. 🙂

Surat Cinta-10

3 Feb

Medan, Sunday, 3rd February 2013

Image

Dear ai,

Begitu banyak mimpi yang hendak direngkuh hati dan pikiran. Meskipun masih tersendat, tak pernah satu pun mimpi-mimpi itu mati. Tetaplah bermimpi, jalani hari hingga semua tergapai, bisik hatiku setiap kali, tuk menghidupkan semangat logika pikiran.

Pernah terlintas di pikirku tuk berlalu saja, jauh melangkah dan menyerahkan semua pada takdir. Jika digariskan bersama, aku hanya milikmu dan engkau hanya milikku. Tapi selalu muncul tanya di relung terdalam hati: adilkah ini? Tak egoiskah aku?

Kekasih, aku kehilangan hitungan, berapa kali aku telah duduk merenungkan mimpi diiringi bisik halus pada-Nya: terangi hatiku, bawa aku sesuai rancangan terindah-Mu. Dan kekasih, semua mimpi berputar dengan jelas di pikiranku, satu per satu. Dan tak perduli seberapa kali aku mengulangnya, tetap ada namamu di setiap penghujung mimpi-mimpiku.

Kuucap syukur karena jelas sudah satu hal: hatiku tenang bersamamu, tumpuan akhir semua impianku. Tak pernah terpikir tuk mencari tempat melabuhkan hati yang lain. Yang selalu memenuhi pikirku hanya satu: kapankah waktu yang tepat tuk mulai menemani langkah-langkah kakimu, setiap harinya? Bisakah aku merengkuh satu mimpi terlebih dahulu? Mimpi yang begitu jauh di sana.

Kucoba tuk menapaki arah lain—arah yang akan membawa fisikku jauh darimu tapi bukan hatiku, tapi Dia masih menuntunku di sini. Tak begitu dekat tapi tak terlalu jauh dari fisikmu. Berbisik lagi hatiku: apa yang Engkau mau dariku? Arahkan kakiku sesuai kehendak-Mu.

Dear ai,

Bisik doa bawaku pada satu pemahaman baru: kapan pun Tuhan mau, aku siap mendampingi jejakmu. Yakin sungguh hati ini, cintamu bukan penghalangku tuk gapai mimpi, tapi penopang di setiap langkahku. Tak perduli seberapa sedikitnya jumlah kata yang bisa terucap bibirku, tetaplah yakin pada tatap mata dan genggaman tanganku. The deepest part of my heart is yours.

Surat Cinta-9

18 Nov

Medan, Sunday, 18th November 2012      7:28

Image

Dear ai,

Sebelum menyatu dengan ketenangan malam, biar kuhapus resah yang mungkin pernah terbersit di hatimu, akan keberadaan diriku . Kekasih, suka di hati, bisa mengisi hari ini bersamamu. Tak perduli berapa kali ekspresi muka berubah karena lelah, hatiku tenang telah mengukirkan kenangan manis untuk hari ini, bersamamu. Jejak langkah, gelak tawa, dan kerutan lelah di wajah smoga tetap bisa kita ulang bersama di hari-hari esok.

Kekasih, belum terjawabkah tanyamu? Tentang adanya aku tuk tetap temanimu di masa datang. Tak ada yang salah dengan waktu. Yang terjadi di hari-hari lalumu, adalah yang terbaik untukmu di saat itu. Yang terjadi di hari-hari laluku, adalah yang terbaik untukku di momen itu. Kita tak bisa menyatukan cerita di hari lalu. Tapi kekasih, saat ini, adalah milik kita, dan jika Dia berkenan, akan tetap begitu adanya hingga Keabadian menjemput.

Kekasih, Sudahkah tersapu butir-butir cemasmu? Biar kuurai beberapa kata lagi. Sungguh riang hatiku, saat mendengar sedikit saja perubahan positif dalam dirimu. Saat satu perubahan baik dalam dirimu bawa suka cita besar dalam hidupku, bagaimana dirimu akan menyebutnya, bukankah itu cinta?

Jika tersamar di matamu, cobalah pejamkan mata. Ingat kembali pancaran mataku. Tidakkah kau bisa berenang di sana? Tak perduli seberapa sedikit kata yang bisa meyakinkanmu, mata kan selalu setia pancarkan cinta dan sayang, untukmu.

Surat Cinta-8

2 Sep

Medan 2nd September 2012

Image

Momen indah/Fotografer: Nansa: Budi Astra Daud Pinem

Dear Ai,

Di sini aku, kadang terperangkap dalam lamunan pencarian arti diri dalam kehidupan yang begitu luas. Kadang kala, lelah timbulkan sebersit tanya: apakah yang kukerjakan sekarang bisa membuat hidupku lebih berarti? Pertanyaan yang terus berulang dan takkan terpuaskan dengan jawaban singkat ‘ya’ atau ‘tidak’.

Kadang kala, kutemukan ragaku kosong. Jiwaku mengembara ke sisi lain nusantara. Kadang, kutemukan diri jauh di pedalaman, bersama mereka yang harus melepas alas kaki, menembus  sungai atau bergelantung menyeberang  jembatan tali untuk mencapai  bangunan sederhana: tempat menuntut ilmu. Kadang kutemukan mataku bercahaya dan tersenyum lebar: melihat cerah masa depan dari jendela mata mereka. Semuanya begitu jelas,  membuat tanganku bergetar dialiri semangat. Namun saat tersadar: aku masih di sini, di antara tugas yang menanti tuk disentuh.

Ada kalanya, kutemukan jiwaku melanglang buana ke sisi lain bumi. Jelas kulihat sosokku berjalan di antara puluhan orang yang berjalan cepat penuh semangat, berpacu menuju tujuan masing-masing. Bisa kurasakan tanganku mendekap buku erat di dada, begitu dekat dengan tujuan memperkaya cakrawala berpikir dan memperdalam kerendahan hati. Gambar yang begitu jelas, sehingga saat tersadar: ukiran senyum masih tersisa di bibir.

Dear ai,

Pernah ingin asal pergi ke mana saja, mencari pendalaman diri dan pengalaman baru: memenuhi tuntutan jiwa yang tak puas dengan kondisi tertentu. Tapi muncul Tanya di hati: adilkah jika aku berlalu begitu saja? Akankah ada sedih di hatimu jika aku harus menghilang jauh dari pandangan mata?

Dear ai,

Tak pernah kutanya padamu: apakah  ketiadaanku bisa mengurangi kebahagiaan di hatimu. Tapi, memikirkan jika benar akan mengurangi suka citamu saja sudah membuatku berpikir ulang. Cinta, kata mereka, tidak egois, tidak hanya mementingkan kepuasan hati sendiri. Dan ai, aku sudah belajar mengurangi egoisme diri: satu langkah dalam pendewasaan diri.

Kecewakah aku? Kutanya hati berulang-ulang, dan kutemukan jawaban ini: Tak ada hal yang terjadi kebetulan. Semua tlah Dia rencanakan. Momen pertama berbagi tawa dan senyum denganmu juga bukanlah kebetulan: ada rencana indah yang telah digoreskan oleh-Nya. Semua mimpi juga tak ada yang mustahil bagi Dia. Sepanjang ada usaha: pasti ada waktu terindah tuk terjelangnya semua mimpi. Apa yang kupikirkan, belum tentu yang terbaik untukku. Tapi apa yang Dia beri padaku, sudah pasti yang terbaik bagi hidupku.

Dear ai,

Sekali lagi, hatiku lebih tahu mengucap syukur. Sungguh beruntung aku, dikelilingi orang-orang yang kucintai dan sangat mengasihiku. Kusyukuri momen pertama mataku melihatmu: momen yang tak pernah terpikir akan mengukir kisah baru dalam lembaran hidupku.  Kuhargai setiap tawa yang kita bagi bersama. Just wanna say this: you mean so much to me.

Surat Cinta-7

22 Jul

Sunday 22 July 2012                        7:58

Image

Dear ai,

Jika mengulang kata bisa membuatmu merasa lebih baik, maka dengan senang hati akan tetap kuulang kembali: tentang rasa dan tentang adanya kita. Biar kusegarkan kembali dengan kalimat lama: dingin kesannya caraku mencinta, tapi seberapa besarnya pun ruang di hati hangatku, tetap hanya bisa menampung satu nama. Sepanjang dirimu menginginkannya, lukiskanlah namamu di dalamnya: lagi dan lagi. Kan slalu ada cukup ruang di dalamnya.

Jarak dan segudang ucap dari sekeliling, jangan biarkan usik hati dan pikirmu. Biarlah rangkaian kata dari sekitar  perkuat rasa di hati. Sepanjang dirimu mencinta dengan tulus, aku akan tetap ada. Kuhargai keberadaanmu sebagai jawaban dari bisik doa.

Jika ingin satu kepastian, dengarlah bisik kata ini:  tak pernah terlintas di pikirku tuk pergi menjauh dan mengakhiri apa yang sudah terjalin. Inginku: kebersamaan saat ini hanya lah langkah awal tuk mewujudkan mimpi selanjutnya. Melalui momen-momen yang kita jalani  saat ini, cobalah mengenaliku dari dua sisi: kelebihan dan kekurangan. Bagaimana pun, jika ingin melangkah bersama, kita harus bisa mencintai kekurangan masing-masing.

Dear ai,

Hidup tetap berjalan dengan dua sisi berdampingan: tawa- tangis, senyum- cemberut, senang-sedih, fit-lelah. Dan kekasih, aku juga berada dalam lingkaran yang sama. Kadang, lelah buatku lupa tersenyum padamu. Itulah adanya aku, lihatlah dari dua sisinya. Jika cinta dan kasih yang kita tanam kuat, maka kita akan selalu bersama. Kapan mengakhiri rentang jarak? Waktunya pasti akan tiba. 🙂

Surat Cinta-6

5 Jun

Medan 3 June 2012

Image

Surat Cinta-6

Dear ai,

Dari sederet ucapmu, kadang aku merasa kalau dirimu masih meragukanku. Sudah saatnya hilangkan segala ragu, biar kuurai sekali lagi:

Kokoh, seperti tebing karang di pinggir pantai—begitulah caraku mencinta,

Bukan mauku, tapi Dia telah ciptakan aku seperti itu adanya.

Lembut, seperti kelopak mawar—begitulah halus dan peka nya aku merasa, sekali lagi bukan mauku, aku ingin lebih keras dari itu, tapi begitulah aku Dia gariskan.

Sekali aku menyayangi, jika dirimu membiarkanku menyayangimu, maka akan bertahan begitu selamanya.

Terbatasnya bibirku ucap kata cinta, kusadari sepenuhnya. Bukan berarti tak mencintamu, bukan berarti tak merindumu. Hatiku hanya tahu setia tuk satu cinta, bukan mauku juga, Dia bentuk aku seperti ini adanya. Tak perlu dipertanyakan. Waktu kan jelaskan semuanya padamu.

Saat tanyamu kudengar—bersediakah aku temanimu kelak jalani hari bersama.

Hanya kujawab dengan tatap mata—kekasih, aku menyayangimu, jika hidup bersama bisa buatmu bahagia, maka akan begitulah nantinya—

Bunyi verbal mungkin akan lebih jelas bagimu, tapi tuk sementara, biarlah hatiku memuaskan diri menebar cinta lewat pancaran mata. Kelak, mulutku juga akan ucap kata tuk jendela dengarmu.

Saat kulihat ada lelah di wajahmu, aku hanya bisa ulurkan tangan, menyentuh jemarimu—kekasih, bagilah lelahmu lewat jemariku, jika engkau mau, aku akan selalu dekat menemanimu—

Tapi Bibirku tetap tanpa kata, mengalah untuk hati, yang masih ingin mengalirkan cinta lewat genggaman tangan.

Dear ai,

Semoga Dia tanam benih pengertian di hati kita. Dengan begitu, kita semakin saling mengenal seiring waktu. Semakin bisa menerjemahkan semua ucap dan gerak tanpa ragu.

—- Surat Cinta-5—

5 Jun

Medan, 20th May 2012

Image

Dear ai,

Sederet kata hendak kuurai tuk ungkap satu rasa. Biar kumulai dengan arti paling sederhana: aku mencintaimu, aku mengasihimu. Saat kutulis kalimat ini, ada rasa di dada yang sulit kuungkap dengan kata., buatku sadar satu hal: waktu telah berhasil menanam cinta di hatiku.

Dan engkau harus tahu, rasa cinta ini kusyukuri dengan sepenuh hati. Tak pernah terbersit sesal barang sedetik pun. Hatiku seolah sudah tahu satu kebenaran: tak perduli kemana arah kita, searah atau akhirnya harus berpisah jalan, memori yang telah kita ukir bersama akan tetap jadi milikku. Tak seorang pun bisa mencuri memori yang telah tersimpan rapi di kedalaman pikiran dan terbenam lekat di dasar hati. Dan selama otakku aktif, demensia takkan mencuri memori yang ada.

Siapa aku, bagaimana aku bersikap dalam tunjukkan rasa, engkau sudah tahu dari awal. Aku mencintai romantisme dan kedalaman rasa, tapi sulit ungkap dengan cara terbuka.

Cinta, bagiku sangat ideal. Jika cinta, tak perduli apa yang menghadang, maka cinta itu akan datang. Keyakinan ini buatku sengaja pasif, aku ingin bersama orang yang benar-benar mencintaiku. Karena begitu aku mencintai, maka semua hati dan pikiranku hanya tertuju pada satu nama. Sadar akan gilanya caraku mencintai, aku ingin menemukan orang yang juga bisa mencintaiku dengan sama gilanya.

Kukenal dirimu, kubiarkan hatiku menerima cinta yang engkau tawarkan.  Kubiarkan cinta itu tumbuh dalam bisik doa: Smoga Tuhan akhirnya mengakhiri jalan panjangku menemukan cinta terbaik. Hatiku melihat setiap gerak dan tingkahmu, mencoba melihat kesungguhan cinta di dalamnya. Jarak, bagiku tak ada masalah. Tetap hatiku ideal: jika cinta, ruang dan waktu tak kan jadi penghalang.

Sepanjang ada kabar, aku yakin hatimu mengingat cintaku. Tak ada kabar, aku tetap beku dalam diam. Bukan karena tak perduli, tapi karena hatiku ingin meyakinkan satu hal: benarkah kau cintaiku? Pantaskah aku menyerahkan seluruh cintaku untukmu? Jika hatimu benar cintaiku, aku yakin engkau takkan membiarkanku lama dalam diam.

Dear ai,

Saat dirimu tak bisa penuhi ucapanmu sendiri, bukankah itu namanya inkonsistensi? Salah satu hal yang paling tidak bisa ditoleransi hatiku. Salahkah, jika aku mulai ragukan cintamu? Kadang logikaku berbisik: mungkinkah ini caramu mengakhiri ikatan yang telah kita jalin? Tak ingin berakhir begini. Tapi jika ini maumu, tak ada hakku tuk mengikatmu. Ku tahu pasti satu hal: cinta adalah kebebasan, kita tak dapat memaksa di mana dan kapan cinta tumbuh. Cinta tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri, lepas dari kontrol pikiran dan hati.

Tak ada kesal di hatiku. Yang akan kusimpan hanya memori indah : gelak tawa dan senyum. Jika pun harus berakhir, ingin sekali mengakhirinya dengan kata dan tatap muka. Dengan begitu, kita tetap bisa berteman di hari-hari esok. Bagaimana pun, detik waktu tak kan berhenti  sampai di sini. Jalan berliku masih menanti di depan mata. Satu keyakinan: ada suka cita besar menunggu di depan sana.

Dear ai,

Terima kasih telah mewarnai hariku dengan hadirmu. Terima kasih telah menambah cerita baru dalam lembar-lembar hidupku. Hidupku takkan pernah sama lagi tanpa mu. Hidupku jadi lebih bermakna dengan hadirmu. Tak perduli seberapa singkat kebersamaan, semua punya arti tersendiri bagiku.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————