Archive | September, 2012

Surat Cinta-8

2 Sep

Medan 2nd September 2012

Image

Momen indah/Fotografer: Nansa: Budi Astra Daud Pinem

Dear Ai,

Di sini aku, kadang terperangkap dalam lamunan pencarian arti diri dalam kehidupan yang begitu luas. Kadang kala, lelah timbulkan sebersit tanya: apakah yang kukerjakan sekarang bisa membuat hidupku lebih berarti? Pertanyaan yang terus berulang dan takkan terpuaskan dengan jawaban singkat ‘ya’ atau ‘tidak’.

Kadang kala, kutemukan ragaku kosong. Jiwaku mengembara ke sisi lain nusantara. Kadang, kutemukan diri jauh di pedalaman, bersama mereka yang harus melepas alas kaki, menembus  sungai atau bergelantung menyeberang  jembatan tali untuk mencapai  bangunan sederhana: tempat menuntut ilmu. Kadang kutemukan mataku bercahaya dan tersenyum lebar: melihat cerah masa depan dari jendela mata mereka. Semuanya begitu jelas,  membuat tanganku bergetar dialiri semangat. Namun saat tersadar: aku masih di sini, di antara tugas yang menanti tuk disentuh.

Ada kalanya, kutemukan jiwaku melanglang buana ke sisi lain bumi. Jelas kulihat sosokku berjalan di antara puluhan orang yang berjalan cepat penuh semangat, berpacu menuju tujuan masing-masing. Bisa kurasakan tanganku mendekap buku erat di dada, begitu dekat dengan tujuan memperkaya cakrawala berpikir dan memperdalam kerendahan hati. Gambar yang begitu jelas, sehingga saat tersadar: ukiran senyum masih tersisa di bibir.

Dear ai,

Pernah ingin asal pergi ke mana saja, mencari pendalaman diri dan pengalaman baru: memenuhi tuntutan jiwa yang tak puas dengan kondisi tertentu. Tapi muncul Tanya di hati: adilkah jika aku berlalu begitu saja? Akankah ada sedih di hatimu jika aku harus menghilang jauh dari pandangan mata?

Dear ai,

Tak pernah kutanya padamu: apakah  ketiadaanku bisa mengurangi kebahagiaan di hatimu. Tapi, memikirkan jika benar akan mengurangi suka citamu saja sudah membuatku berpikir ulang. Cinta, kata mereka, tidak egois, tidak hanya mementingkan kepuasan hati sendiri. Dan ai, aku sudah belajar mengurangi egoisme diri: satu langkah dalam pendewasaan diri.

Kecewakah aku? Kutanya hati berulang-ulang, dan kutemukan jawaban ini: Tak ada hal yang terjadi kebetulan. Semua tlah Dia rencanakan. Momen pertama berbagi tawa dan senyum denganmu juga bukanlah kebetulan: ada rencana indah yang telah digoreskan oleh-Nya. Semua mimpi juga tak ada yang mustahil bagi Dia. Sepanjang ada usaha: pasti ada waktu terindah tuk terjelangnya semua mimpi. Apa yang kupikirkan, belum tentu yang terbaik untukku. Tapi apa yang Dia beri padaku, sudah pasti yang terbaik bagi hidupku.

Dear ai,

Sekali lagi, hatiku lebih tahu mengucap syukur. Sungguh beruntung aku, dikelilingi orang-orang yang kucintai dan sangat mengasihiku. Kusyukuri momen pertama mataku melihatmu: momen yang tak pernah terpikir akan mengukir kisah baru dalam lembaran hidupku.  Kuhargai setiap tawa yang kita bagi bersama. Just wanna say this: you mean so much to me.